Oleh: Donny Syofyan

 

Suasana Ramadhan pada ramadhan  1441H/2020 ini betul-betul berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Covid-19 sebagai pandemic global yang mensyaratkan pembatasan sosial (social distancing) berimplikasi terhadap terhentinya banyak aktivitas, termasuk pelaksanaan ibadah di masjid bagi kaum Muslimin.

Dalam sambutannya lewat sebuah video pada Kamis (23/4), Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan, “The holy month of Ramadan is a time of special devotion for Muslims across the world. It’s a time of fasting and prayer, as well as reflection and renewal. However, this year will be very different as we all experience a global health crisis “ (Bulan suci Ramadhan adalah waktu pengabdian khusus bagi umat Islam di seluruh dunia. Ini adalah saat untuk berpuasa dan berdoa, serta refleksi dan pembaruan. Namun, tahun ini akan sangat berbeda karena kita semua mengalami krisis kesehatan global).

Saya dan keluarga bukanlah pengeculian merasakan dampak pandemi Covid-19 di Australia saat ini. Perbedaan ini bukan hanya terkait dengan suasana batin berupa kekhawatiran atau ketakutan ancaman Covid-19 bagi kami sekeluarga. Yang tak kalah krusialnya adalah terjadi transformasi interaksi sosial dalam skala massal. Setidaknya dari pengalaman dan pengamatan saya pribadi, ini mencakup sejumlah hal.

Pertama, menguatnya individualisme dan privasi. Sebagai negara yang mewakili kebudayaan dan peradaban Barat,  Australia sebetulnya sudah jauh-jauh hari menjunjung tinggi nilai-nilai Barat semisal individualisme dan privasi, di mana negara atau masyarakatnya amat menekankan hak-hak, kebebasan dan pencapaian pribadi. Penghormatan yang kuat terhadap hak-hak pribadi ini sejatinya bertujuan untuk menciptakan kenyamanan dan keamanan masyarakat. Sebagai misal, lewat Undang-Undang Perlindungan Lingkungan tahun 1970 (Environment Protection Act 1970), adalah ilegal membunyikan kendaraan keras-keras (kecuali memasuki atau memasuki kawasan tertentu) sebelum jam 7 pagi dan di atas jam 8 malam. Seseorang berhak mengajukan keluhan ke pihak pemerintah, biasanya disebut council, bila ia merasa terganggu oleh aktivitas bising apapun dalam rentang waktu tersebut, tak hanya bunyi kendaraan.

Baca juga :  PWI Sumbar Kurbankan 3 ekor Sapi dan 2 ekor Kambing

Mewabahnya Covid-19 membuat individualisme dan privasi tersebut makin kuat, terstruktur dan memperoleh legitimasi. Karena keniscayaan penjarakan sosial (social distancing), kedua anak-anak saya harus menjalani proses belajar mengajar di sekolah maupun kegiatan mengaji di masjid secara daring. Dalam konteks ini, saya mengamati betul bagaimana putri saya mengadakan pertemuan secara daring dengan gurunya saban hari pada jam-jam tertentu. Aktivitas ini secara tidak langsung menegakkan hubungan antara guru dan murid secara privat mengingat percakapan bersifat dua arah. Dalam melakoni aktivitas ini, saya tercenung bagaimana putri saya begitu piawai bermain dengan sejumlah aplikasi yang dibutuhkan dalam kegiatan daring ini. Hal yang sama juga berlaku bagi kegiatan studi Quran di masjid. Lantaran melibatkan banyak orang, aktivitas ibadah termasuk bagian yang sementara dilarang tegas oleh pemerintah Australia.

Putri saya sedang belajar daring dengan gurunya

Suka tidak suka, digitalisasi pendidikan sudah dimulai di kamar-kamar rumah. Pendidikan menjelma tanpa ruang kelas. Kebutuhan terhadap jaringan internet berkecepatan tinggi,  kemelekan terhadap pelbagai aplikasi dalam berkomunikasi daring dan dorongan untuk lebih mandiri karena semuanya tergantung pada jemari peserta didik secara live secara telanjang mempertontonkan bahwa individualisme dan privasi pendidikan menopang individualisme dan privasi dalam interaksi sosial yang lebih luas.

Baca juga :  Hari Pertama PSBB, KI Sumbar Pleno Virtual Monev Badan Publik

Kedua, ‘merumahkan’ aktivitas ibadah. Sebagai bagian kegiatan ibadah dan interaksi sosial, aktivitas Ramadhan—terutama puasa dan tarawih—juga harus mengikuti protokol kesehatan merespon wabah Civid-19. Yang pasti kami tidak bisa menyelenggarakan shalat tarawih di masjid. Di kawasan saya tinggal, Clayton, biasanya kami menyelenggarakan ibadah jumat dan juga tarawih di Masjid Westall, sebuah masjid yang dimiliki oleh warga Indonesia, dikelola oleh IMCV (Indonesian Muslim Community of Victoria). Ia berlokasi di 130 Rosebank Ave, Clayton South, Victoria.

Ada dua rahmat terselubung (blessing in disguise) dari aktivitas Ramadhan yang terkonsentrasi di rumah ini: saya punya lebih banyak waktu untuk mengecek atau mengontrol ibadah anak-anak (shalat, puasa, dan membaca Al-Quran) di satu sisi dan komunikasi saya lebih intens dengan para ustadz/ustadzah anak-anak. Bila dikatakan bahwa wabah Covid-19 ini telah menciptakan penjara besar karena semua orang dituntut untuk tetap di rumah atau membuat banyak orang merasa terisolasi karena memiliki ruang gerak yang amat terbatas, maka sebetulnya banyak fakta yang menunjukkan bagaimana momen isolasi dan suasana penjara telah memberi peluang bagi banyak orang untuk menghasilkan banyak kerja dan karya monumental.

Putri saya tengah belajar mengaji Al-Quran dengan ustadzah secara daring

Dari pelbagai platform media sosial, kita mulai mencermati warna-warni para keluarga menjalani hari-hari mereka dengan penuh geli, lucu, kreatif bahkan juga panik. Lantaran ketakutan terhadap Covid-19, banyak orang menganggap isolasi, karantina dan lockdown  sebagai hari-hari dirumahkan, masa-masa pengangguran. Yang agaknya dilupakan banyak pihak bahwa masa-masa isolasi, karantina dan lockdown  sejatinya adalah momentum produktivitas yang berasal dari penguatan peran anggota keluarga; ayah, ibu dan anak-anak.

Baca juga :  Tekan Penyebaran COVID-19, Wali Kota Padang Perintahkan Camat dan Lurah Perkuat Peran RT/RW

Buya Hamka merampungkan Tafsir Al-Azhar di hotel prodeo di masa Bung Karno dan Quraish Shihab perlu diasingkan ke Mesir sebagai duta besar RI oleh Presiden Habibie sehingga memiliki banyak waktu menulis Tafsir Al Mishbah.

Niccolò Machiavelli menulis The Prince ketika ia diasingkan oleh keluarga Medici yang memerintah di Florence. Risalah ini menjadi panduan strategi politik yang monumental yang digunakan oleh para pialang kekuasaan, semisal Henry VII dari Inggris, Benjamin Franklin dan Thomas Jefferson di Amerika, Napoleon Bonaparte dari Perancis hingga John Gotti, pemimpin mafia di New York.

Wabah Covid-19 ini memberikan nuansa Ramadhan yang lagi-lagi bersifat daring.

Hari-hari ini banyak yang menggunakan media sosial untuk terhubung dengan orang lain, apakah itu melalui berbagi resep, memposting hidangan di Instagram atau blogging tentang menu yang direncanakan untuk Ramadhan.

Beberapa hal yang saya coba lakukan adalah menyelenggarakan kegiatan buka puasa dengan cara daring (live-streaming iftar) dengan keluarga dan teman-teman dan memiliki Zoom catch-up guna membantu menumbuhkan rasa kebersamaan, sesuatu yang belum pernah saya lakukan atau bahkan terpikirkan seumur hidup.

Ramadhan 2020M/1441 H ini benar-benar menjadi lebih bermakna karena rumah kami ini juga akan menjadi masjid kami. (*)

Donny Syofyan, Dosen Sastra Inggris FIB Unand