Mesra eza memainkan piano. Menangis haru. Ia luapkan perasaannya di tuts piano itu dalam melodi yang mengiris.

Eza tidak kuasa menahan tangis, saat diminta memberikan sambutan pada perayaan 85 tahun usia mamanya, Nur Ainas Abizar, Minggu (23/8). Rasa haru bercampur suka cita serta rasa syukur karena mamanya masih diberi umur panjang oleh Tuhan, mengaduk-aduk emosinya. Ia tak kuasa menahannya.

Nur Ainas Abizar atau akrab disapa Bundo lahir di Napar Koto Nan Gadang, Kota Payakumbuh. Ayahnya, M Junus Radjo Batuah, dan Ibunya, Jairah, dikenal bermasyarakat dan tempat belajar adat Minangkabau di Koto Nan Gadang. Bundo menjadi titisan ayah dan ibunya dalam memelihara dan menjaga adat Minangkabau melalui organisasi Bundo Kanduang Provinsi Sumatera Barat yang dipimpinnya selama 2 periode. Bundo yang berprofesi sebagai guru geografi SMP ini aktif berorganisasi dan termasuk orang yang membesarkan Bundo Kanduang.

Perayaan ulang tahun Bundo ke-85 dilakukan secara virtual melalui zoom meeting itu, sekaligus peluncuran buku biografi Hj Nur Ainas Abizar, Limpapeh Rumah Nan Gadang, yang ditulis Yusrizal KW dan Gusriyono. Buku biografi ini tidak hanya menceritakan perjalanan hidup Bundo dari satu sisi, tetapi juga merangkum cerita anak-anaknya, anak-anak kakaknya, kerabat dan orang terdekatnya, muridnya, serta beberapa tokoh yang mengenal Bundo. Ditulis dengan bahasa yang renyah dan sastrawi, disertai pelajaran-pelajaran hidup, seperti mendidik anak, menjalin silaturahim, perihal adat dan budaya Minangkabau, serta pelajaran tentang kebaikan dan ikhlas.

“Menulis buku ini, kami seperti mendapat tambahan pelajaran tentang kearifan, budaya Minangkabau, silaturahmi, serta kebaikan-kebaikan lainnya. Ini biografi seorang guru, yang mengajarkan kita tentang banyak hal dalam hidup dengan penuh keikhlasan. Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penulisan buku ini,” ujar penulis biografi Bundo, Yusrizal KW.

Sementara itu, Mesra Eza mengakui gagasan penulisan buku biografi mamanya ini disampaikan oleh temannya, Rima Semiarty. Menurut Rima, hal itu dilatari oleh keinginan para orang tua yang selalu ingin menceritakan masa lalunya. Namun, ketika orang tua itu tiada, cerita-cerita inspiratif tersebut juga lesap, karena tidak ada lagi yang menuturkannya. Agar cerita-cerita itu tidak lenyap begitu saja, dan bisa menjadi teladan bagi anak cucu nantinya, maka harus ditulis.

Baca juga :  Hendri Septa Yakin Perda AKB Bisa Ubah Prilaku Warga Patuhi Protokol Kesehatan

“Saya melihat banyak sekali teladan yang bisa diambil dari Bundo. Makanya, saya usulkan kepada Eza untuk membuat biografi Bundo ini,” ujar Rima terharu.

Mesra Eza mengungkapkan buku biografi ini sebagai kado ulang tahun untuk mama dari anak-anaknya, Mezra Eza, Fethriza, Della Fithria, almarhumah Yezzi Selvia, dan Virgistia Abizar. Meskipun mamanya lahir 25 Juli, namun tradisi keluarga, perayaan ulang tahun ini biasanya dilaksanakan bulan Agustus sekalian dengan ulang tahun papanya Abizar Datuak Tan Sati, serta adiknya Virgistia Abizar.

Perayaan ulang tahun dan peluncuran buku biografi ini dihadiri beberapa tokoh Sumbar, seperti Irman Gusman, Basril Djabar, Profesor Idris Idham, Profesor Yuliar Anas, Profesor Kamardi Thalud, Profesor Raudha Thaib, Dr dr Rima Semiarty, kaum dan keluarga besar Bundo, Ennaidi Dt Angguang nan Pandak, Ismet, serta anak-anak kakak Bundo lainnya, menantu dan cucu-cucu Bundo, besan, teman-teman anak Bundo, keluarga Jumairi, serta para teman-teman Bundo di organisasi dharmawanita dan Bundo Kanduang.

Ennaidi Dt Angguang Nan Pandak mewakili kaum, mengatakan, Bundo selalu memperhatikan keluarga besarnya. Memotivasi anak-anak saudaranya serta orang kampungnya untuk terus belajar. Selain itu, secara tidak langsung, Bundo mewarisi ketokohan ayahnya, yang dikenal masyarakat sebagai tempat orang belajar dan bertanya.

“Doa kami, etek tetap sehat, bisa beribadah dengan baik, dan tetap menjadi orang tua yang berguna bagi orang banyak, negara dan bangsa,” ujar Datuak Angguang.

Besan Bundo, Yusman Kasim, menyebut Bundo sebagai seorang tokoh perempuan aktif sebagai ketua bundo kanduang sumbar, serta anggota DPRD Sumbar, di samping sebagai seorang pendidik yang menjadi profesinya.

Baca juga :  Pajak Tak Gratis lagi untuk Hotel, Restoran, dan Tempat Hiburan

“Sewaktu menjadi birokrat di Kantor Gubernur Sumbar dulu, saya sering bekerjasama dengan. Sebelum menjadi besan, kami sudah lama kenal dan berhubungan dengan baik. Bundo memiliki perhatian terhadap lingkungan, keluarga dan anak-anak, serta cucunya. Beliau sering menelepon anak-anak, cucu, menantu, bahkan saya dan istri. Menanyakan kabar dan sebagainya. Beliau tanpa pamrih mau bekerja hingga sekarang, seperti Idul Fitri lalu, rajin menyalurkan bantuan. Selamat ulang tahun kepada Bundo. Semoga sehat selalu, kuat beraktifitas, dan ikhlas,” ungkap mantan Wakil Wali Kota Padang itu.

Kemudian, Ketua Bundo Kanduang Sumbar, Puti Reno Raudha Thaib, menyampaikan, Bundo perempuan Minang yang menjadi teladan. Menurutnya, beliau berusaha mengenal orang-orang yang berada disekitar beliau, terutama dalam organisasi, dengan cara atau pendekatan hal ikhwal seorang ibu dengan hal ikhwal anak-anaknya.

“Hal ini tidak muncul begitu saja. Itu semua representasi dari kultur dan budaya yang dianut beliau sebagai seorang perempuan yang didalam kaum berperan sebagai mande soko,” tutur Raudha Thaib, yang mengenal Bundo sejak kecil.

Pengusaha dan tokoh pers Sumbar, Basril Djabar, menilai Bundo sebagai sosok perempuan yang berhasil membangun sebuah keluarga besar. Ia mengutip ungkapan, jangan bicara membangun sebuah negara kalau anda tidak bisa membangun keluarga.

“Suri teladan yang luar biasa diberikan Bundo sebagai seorang ibu. Peranan Bundo Kanduang menuntut spin-off Semen Padang, tidak bisa dilepaskan dari tangan bundo. Dimana saja rapat, jam berapa saja, Bundo selalu ikut. Dalam situasi yang panas, kalau bundo yang bicara jadi adem. Kedepan, seperti dicontohkan oleh Bundo, bagaimana kita menjadikan peranan bundo-bundo di rumah tangga menjadi lebih baik lagi,” ungkapnya.

Terkait keikutsertaan Bundo dalam memperjuangkan spin-off Semen Padang ini diulas wartawan dan penulis biografi, Hasril Chaniago. Ia salah seorang yang bertugas sebagai “bujang salamek” dalam proses perjuangan memisahkan Semen Padang dari Semen Gresik, dan membatalkan penjualan kepada pihak asing (Cemex), mengisahkan, Bundo salah seorang yang ikut menandatangani maklumat masyarakat Sumbar ketika itu.

Baca juga :  Kakanwil Kemenag Sumbar : Pembatalan Haji Wujud Perlindungan Pemerintah kepada Jemaah

“Bundo penaung kami ketika memperjuangkan spin-off Semen Padang. Bundo ikut menandatangani maklumat masyarakat Sumbar. Seluruh pengurus bundo kanduang ikut memperjuangkan Semen Padang, menyelamatkan Minangkabau ketika itu. Sebenarnya, yang ingin kita pertahankan waktu itu Minangkabau, intinya tanah ulayat. Ini harus dicatat dan menjadi perjuangan selanjutnya oleh tungku tigo sajarangan, Bundo Kanduang dan pemuda untuk reformasi undang-undang agraria. Kalau tidak, habis tanah ulayat di Minangkabau ini nantinya,” tuturnya.

Buya Mas’oed Abiddin yang memberi tausiah dalam acara tersebut mengungkapkan, budaya Minangkabau itu budaya tutur. Seorang tidak bisa bertutur bila tidak memiliki gagasan dan wawasan, termasuk cara menyampaikannya. Menurutnya, sudah semestinya budaya tutur itu dikembangkan menjadi budaya tulis sehingga bisa dibaca seperti buku biografi Bundo tersebut.

“Kita harus memperkaya budaya kita dari budaya tutur plus budaya tulis. Bukankah agama kita mengajarkan bermula dari iqra’, membaca, kemudiaan ‘alamal bil qalam, menulis,” ujar Buya.

Selanjutnya, kata Buya, bertambahnya umur ada dua hal yang akan dihadapi. Pertama, berkurangnya nikmat, sehingga harus melahirkan kesabaran yang kuat. Kedua, akan banyak kehilangan, orang-orang mendahului kita.

“Ketika umur bertambah, kita harus punya hati yang kokoh, yang didapat dengan syukur kepada Allah dan kesabaran yang kuat,” tukas Buya.

Diakhir acara, Bundo menyampaikan rasa harunya dengan acara ini.

“Sebetulnya Bundo sangat terharu dengan acara yang diadakan ini. Bundo mendoakan ananda Mesra Eza dan adik-adiknya, beserta cucu-cucu. Terimakasih semua yang hadir dan berkomentar tentang Bundo. Semoga diberkati Allah semuanya. Amiin,” pungkas Bundo.  (gry)