Uni Eropa terkejut atas kematian warga kulit hitam Amerika George Floyd oleh Polisi sebagai “penyelewengan kekuasaan.”

Peristiwa itu dikutuk sebagai “penyelewengan wewenang” dan memperingatkan terhadap segala bentuk kekerasan yang lebih lanjut.

“Seperti masyarakat di AS, kami juga terkejut atas kematian George Floyd. Masyarakat harus waspada dengan segala bentuk penggunaan kekuatan yang berlebihan,” kata Joseph Borrol, pejabat kebijakan luar negeri UE pada selasa (2/6) seperti yang dikutip dari Reuters.

Borrel menyebut kematian Floyd “sangat tidak menyenangkan”  dan menunjukan penyalahan wewenang oleh penegak hukum. “Kami mengutuk rasisme… kami percaya kemampuan AS untuk bersatu, untuk menyembuhkan luka ini sebagai sebuah bangsa,” katanya lebih lanjut.

Kematian Floyd menyebabkan kemarahan terhadap perlakuan polisi terhadap warga kulit hitam. Demonstrasi yang diikuti dengan kekerasan dan penjarahan telah terjadi di beberapa kota di Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir. New York Times melaporkan Puluhan ribu demonstran kembali turun ke jalan pada Senin malam (1/6) meskipun ada jam malam dan ancaman penangkapan.

Baca juga :  Ketersediaan Anggaran untuk Menyelengarakan Pilkada Akan Menjadi Masalah

Apa yang terjadi di AS belakangan ini mengundang reaksi dari belahan dunia lainnya. Dikutip dari laporan Al Jazeera, Senada dengan UE, Presiden Ghana, Nana Akufo-Addo “terkejut dan sedih” karena pembunuhan Floyd.

“Orang-orang berkulit hitam di dunia terkejut dan sedih karena pembunuhan seorang kulit hitam tak bersenjata oleh polisi kulit putih AS… kami mendukung kawan dan kerabat kami di AS dalam masa sulit ini.” katanya. Sedangkan juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyebut rasisme di AS sebagai “penyakit kronik dalam masyarakat AS.”

Sejumlah demonstran turun ke jalan di Sydney untuk menunjukan solidaritas terhadap protes di AS terhadap kebrutalan polisi dan pembunuhan Floyd dan pertanyaan mengarah pada Kepolisian Australia karena penangkapan dengan kekerasan seorang remaja keturunan Aborigin. Para demonstran mengabaikan larangan berkumpulnya banyak orang di Hyde Park, Sydney sebut Reuters.

ABC melaporkan para demonstran menggunakan masker, berbaris dengan damai menuju kantor-kantor pemerintah, meneriakan “I can’t breathe!” dan “Hidup orang kulit hitam penting” di depan barisan polisi.

Baca juga :  Berbagai Media Dunia "Mengecam" Tindakan Amerika Setelah Kematian George Floyd 

“Ini adalah masalah semua orang,” kata Kira Dargin, perempuan Aborigin Wiradjuri kepada Reuters.

“Sebagai seorang kulit hitam, saya lelah melihat saudara-saudara saya dijatuhkan. Sebagai kulit hitam, saya takut dengan nasib yang akan menimpa anak saya. Semua ini harus dihentikan!” katanya seperti yang dikutip dari ABC. (Patra)