Padang, inioke.com–Kepala Pusat Diagnotik dan Riset Penyakit Infeksi FK-Unand, dr Andani Eka Putra, mengakui belum mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat, pemerintah bahkan tenaga kesahatan secara menyeluruh.

“Memang kita gagal memberikan pemahaman kepada masyarakat, pemerintah bahkan tenaga kesahatan. Contohnya, ketika diketahui ada kasus langsung mendapat diskriminasi. Padahal belum bisa dipastikan mereka positif atau tidak,” katanya dalam diskusi daring Lesigo Institue, Sabtu (16/5).

Diungkapkan Andani, kebanyakan tenaga kesehatan juga banyak yang tidak tahu. Mereka berpikir bahwa menangani COVID-19 adalah masalah hidup mati. Hal ini membuat profesionalisme kerja menjadi menurun. Misalnya setelah memakai alat pelindung yang standar tetapi masih merasa takut.

Kemudian, lanjutnya, salah satu yang membedakan Sumbar dari wilayah lain adalah laboratorium Universitas Andalas yang berhasil memeriksa sampel swab. Pada awalnya Andani menyatakan bahwa mereka dapat memeriksa sekitar 200 hingga 300 sampel perhari. Namun selanjutnya laboratorium ini bahkan bisa memeriksa sampai 700-800 sehari dengan jam kerja 22 jam. Dari 05.30 WIB sampai 03.30 WIB dengan 3 shift.

Baca juga :  Pekerja Pabrik PT Bumi Sarimas Indonesia Tuntut Pembayaran Gaji dan THR

“Mereka bersemangat dan militan dalam bekerja di lab. Karena misi kita bukan hanya mendeteksi positif atau negatif, tetapi memberikan warna dalam menyelamatkan sumbar,” kata Andani mengapresiasi timnya.

“Bahkan saya menargetkan pemeriksaan sampel sebanyak 1500 sehari,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa laboratorium ini juga memberikan saran kepada pemerintah. Jika ditemukan satu kasus maka pihaknya meminta untuk dilakukan tracing.
Dengan sampel yang dikirimkan, Andani dan timnya bisa memberikan rekomendasi dalam melacak keberadaan orang-orang yang telah terinfeksi.

“Health protective memutus mata rantai penularan. Dari ratusan sampel yang didapatkan, kita mulai menemukan sejumlah kasus. Tentu ini hal yang menggembirakan. Lab itu kita bangun agar baik tenaga kesehatan ataupun pemerintah tidak pusing menghadapi pandemi ini. Selain itu kita juga berusaha untuk mencegah erupsi, yaitu menyebarnya virus ini secara massal,” ungkapnya.

Terakhir, Andani menekankan mengenai karantina mandiri. Ada beberapa pasien yang menderita depresi. Kebanyakan adalah ODP dengan gejala ringan. Isolasi bisa membuat stres. Hal ini bisa saja menimbulkan penyakit lain bagi pasien tersebut. Ini menjadi tantangan bagi psikolog untuk membantu para pasien secara langsung dan tidak bisa melalui video calling.

Baca juga :  MUI Sumbar : Boleh Shalat Idul Fitri di Masjid atau Lapangan untuk Daerah Terkendali

Pembicara lainnya, epidemiolog, Defriman Djafri, memaparkan yang dilakukan oleh pemerintah Sumbar sebenarnya sudah on the track.

“Kami mencoba untuk membuat beberapa data dan evaluasi. Semoga ini menjadi modal bagi pemerintah untuk merumuskan langkah-langkah dalam penangan COVID-19 ini,” kata Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unand ini.

Melanjutkan pendapat dr Andani, Defriman menyebutkan bahwa tenaga kesehatan merupakan proporsi yang terbanyak terinfeksi (25%) dan penularannya menjadi sumber penularan utama. Pasar raya menjadi klaster terbesar di Provinsi Sumbar. Kasus konfirmasi positif lebih dari 50% berada di kota Padang.

Menurutnya, ketersediaan data bisa digunakan untuk merancang strategi yang efektif bagi pemerintah dalam menangani pandemi ini. Indonesia belum memiliki pengalaman dalam menghadapi pandemi ini sehingga terdapat banyak masalah yang dihadapi untuk melawannya.

Lebih lanjut ia menyimpulkan bahwa makna besar dari PSBB adalah mendidik masyarakat dalam menerapkan physical dan social distancing.

“COVID-19 ini bisa saja terjadi dalam beberapa gelombang. Maka perilaku itu harus terbentuk untuk menghadapi seandainya muncul gelombang berikutnya,” pungkasnya. (pat)

Baca juga :  Seorang Pasien Positif COVID-19 di Padang Meninggal Dunia dan Telah Dimakamkan