Oleh: Muhammad Taufik

 

Sejak tulisan Syeikh Ahmad Kutty, seorang dosen senior dan sarjana Islam di Institute Islam Toronto, Ontario, Canada dipublikasikan, banyak reaksi yang muncul. Ada banyak yang menerima dan tentu juga ada yang menolak dengan segala argumentasinya. Maka, setelah gagasan menjadi kontroversi, Syeikh membuat jawaban secara umum, apa yang menjadi keberatan para pembaca.

Ahamad Kutty paling tidak mengindentifikasi sanggahan itu kepada beberapa hal, pertama adalah tentang shalat Jumat harus dilakukan dengan cara yang dilakukan oleh Nabi Muhamamad SWA dan para sahabat. Jadi Jumat virtual disimpulkan mengubah bentuk ibadah yang telah ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam hal ini Syeikh menjelaskan, bahwa perubahan bentuk ibadah ini sesungguhnya sudah banyak terjadi sebelumnya. Ia mencontohkan, dengan kasus penggunaan mikrofon pada waktu azan atau shalat. Ia menjelaskan bahwa di daerahnya pada awal tahun 1950 masyarakat dihadapkan pada dilema apakah menggunakan mikrofon  untuk azan, kutbah dan shalat.

Alhasil dari kesepakatan yang diambil dari perdebatan panjang para fuqaha terkemuka akhirnya menyimpulkan, bahwa shalat Jumat menggunakan mikrofon tidaklah sah. Karena ini adalah sesuatu yang baru yang tidak ditemuakan pada masa Nabi dan para pendahulu. Namun, setelah beberapa tahun kemudian, mikrofon akhirnya digunakan di masjid yang sama, tidak hanya untuk kepentingan azan, Jumat tetapi juga untuk kegiatan ceramah dan perayaan maulid dengan ratusan bahkan ribuan yang dapat manfaat dari penggunaan mikrofon teresebut.

Jadi apa yang sesunggunya terjadi dengan perubahan yang 180 derajat ini? Syeikh mengulasnya, bahwa apa yang ditafsirkan sebagai sesuatu yang tidak sah, karena mengubah bentuk dan cara shalat Jumat, akhirnya kemudian disadari sebagai sesuatu yang tidak mengubah bentuk format shalat sama sekali. Faktanya, itu hanyalah alat komunikasi dan transmisi suara muazin, khatib dan imam kepada jamaah. Bahkan ini sangat baik membantu para khatib, penceramah, mendengarkan apa yang mereka sampaikan. Kemudian Syeikh selanjutnya menggambarkan dengan mengajukan beberapa contoh bagaimana sesuatu yang baru dibuat kaum muslimin setelah kematian Nabi. Dia mengambil contoh adalah menara masjid.

Dalam zaman Nabi Muhammad tidak dikenal menara. Setelah menara, muncul bentuk baru lagi dalam ibadah yaitu mihrab, kemudian mikrofon. Semua yang disebutkan diatas pada awalnya tidak menyenangkan dan ditolak, tetapi kemudian diterima sebagai praktik yang baik karena dianggap tidak mengubah bentuk ibadah. Argumentasi ini diperkuat lagi dengan kejadian belum lama ini yaitu penghentian terhadap praktik mengikuti imam melalui layar televisi atau monitor, namun sekarang telah diterima secara luas.

Baca juga :  Stabilitas Sistem Keuangan di Tengah Pandemi

Ahamad Kutty terus memperkuat argumennya dengan memberi contoh yang lain, yaitu bahwa masjid yang paling konservatif saja saat ini menyediakan ruangan bagi perempuan untuk shalat dengan mengkuti imam melalui layar monitor. Demikian juga pada saat jamaah masjid melimpah pada shalat Jumat atau tarwih, mereka mengikuti imam shalat melalui monitor di kafetaria dan dipusat kebugaran. Dalam kasus ini menurut Syekih ketidakterputusan (kontiniuitas) garis (shaf), awalnya dianggap prasyarat dalam shalat, telah dilemahkan atau dikesampingkan. Oleh sebab itu jika Jumat virtual dianggap tidak sah karena alasan bahwa hal itu tidak ada di zaman Nabi, bagaimana dengan masjid yang menggunakan layar monitor. Artinya praktik itu juga tidak sah karena tidak ada ditemukan pada zaman nabi.  Jadi sederhannya adalah jika praktik Jumat online pada suatu waktu mungkin dianggap tidak sah, ternyata fatwa tentang itu berubah dengan menganggap monitor itu sebagai alat yang membantu jamaah untuk mengikuti imam.

Kedua adalah Jumat virtual tidak bisa dilakukan karena bertentangan dengan pendapat yang menyatakan bahwa jamaah shalat mesti dalam shaf yang satu yang tidak terputus dan tidak ada batas yang tidak masuk akal seperti tembok tinggi, sungai dan lain-lain yang memisahkan jamaah. Memang benar apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa jamaah shalat itu harus satu bahunya dalam garis lurus dengan shaf yang baru dan harus sama dengan shaf yang depanya agar tidak ada celah antara shaf. Perintah dasar Nabi ini adalah sebuah kenyataan bahwa imam harus diikuti dalam shalat; jika imam takbir, makmum ikut takbir, jika imam rukuk makmum rukuk dan lain-lain. Dan ini bisa dilakukan dengan baik jika shafnya lurus dan tidak terputus. Namun menurut Syekih, meskipun idealnya shalat harus berada dalam shaf yang tidak terputus sebagaimana sunnah Nabi, namun harus diingat bahwa Syariah mempertimbangkan perubahan keadaan dan memungkinkan pelonggaran pembatasan.

Baca juga :  Wiratmo Soekito dan Peranan Kontrol Intelektual

Sebagai alasannya dari penjelasan diatas Syeikh Ahmad melacak beberapa peristiwa para sahabat di antaranya  pertama, adalah ketika Ibn Abbas terlihat sedang shalat di maqsurah di luar masjid, di belakang jamaah. Dia berkata, “Tidak ada yang salah dalam shalat di pinggiran Masjid mengikuti imam (bahkan jika ada pemisahan dari shaf). Kedua, Salih ibn Ibrahim berkata, “Aku melihat Anas bin Malik  shalat Jumat di rumah Humayd bin Abd al-Rahman, mengikuti imam Masjid; ada jalan yang memisahkan rumah dari Masjid. Ketiga, Yunus bin `Ubayd berkata: Aku melihat Anas bin Malik shalat Jumat  mengikuti imam saat dia berada di sebuah ruangan yang terpisah dari Masjid. Keempat, Imam Malik mengabarkan bahwa orang-orang biasa memasuki rumah-rumah istri Nabi (setelah kematian Nabi) dan digunakan untuk shalat mengikuti imam Masjid; dia mengatakan hal itu dapat diterima karena masjid yang melimpah (ramai).

Kelima, Imam Malik mengatakan, “Shalat Jum’at dapat dilakukan di halaman masjid serta di tempat tinggal di sekitar masjid. Dan jika masjid penuh sesak maka shalat dengan kondisinya shaf tidak sama, atau ada jalan yang memisahkan, maka shalat seperti itu sah. Sementara  Ibn Rushd menambahkan, “jika seseorang melakukannya tanpa ada masalah melubernya jamaah, atau kebutuhan, tindakannya itu tidak dianjurkan, tetapi shalatnya tetap sah. Keenam, Ibrahim al-Nakha`i ditanya: Apa yang Anda katakan tentang seseorang yang shalat mengikuti imam masjid dari rumahnya? Dia menjawab, “Tidak ada yang salah dalam melakukannya.” Hasan al-Basari dan Bukhari juga juga memiliki pandangan yang sama

Pertanyaanya adalah jika para sahabat, mujtahid dan ulama terdahulu membolehkan shalat dari rumah yang terpisah dari imam, mengapa hari ini kita tidak menggunakan pendapat itu dalam situasi yang sulit sebagaimana sekarang. Apakan mereka tidak memahami agama Islam lebih baik dari kita sekarang? Bahkan, menurut Ibnu Taimiyah, keempat imam besar sepakat tentang keabsahan mengikuti imam baik itu diluar atau di dalam masjid. Yang berbeda dari mereka adalah keabsahan shalat ketika imam dipisahkan dari para jemaatnya melalui jalan atau sungai yang bisa dilewati kapal. Dan, bahkan dalam keadaan seperti itu, kami menemukan bahwa Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah menganggap shalat seperti itu tidak sah sementara Imam Syafi’i dan Imam Malik membolehkannya. Oleh karena itu, para fuqaha besar memiliki perbedaan pendapat tentang masalah ini dan tidak satu pun posisi tunggal.

Baca juga :  Pandemi Covid-19 dan Populernya Komunikasi Virtual Masa Kini

Kemudian Syeikh Ahmad Kutty memperkuat kembali argumentasinya dengan menyuguhkan contoh pada zaman sekarang, yaitu fatwa tentang membolehkan jamaah untuk mengikuti jamaah (jemaat) di Mekkah dari hotel yang terhubung ke Haramayn termasuk diantaranya Clock Tower Hotel dan Hotel Safa. Oleh sebab itu orang yang menentang tentang Jumat online pasti juga akan melakukan hal yang sama ketika melakukan Haji atau Umrah yaitu melakukan shalat jamaah atau jumat dari hotel.

Nah, jika kita kaku dalam berpegang pada aturan yang dinyatakan oleh mereka yang menentang tentang keabsahan jumat secara online, maka banyak shalat yang dilakukan umat islam diseluruh dunia dianggap tidak sah. Kemudian Syeikh mencontohkan dengan dirinya yang sudah lebih empat puluh tahun menjadi imam, dia belum melihat masjid memiliki kemampuan untuk mengakomodasi jamaah yang shalat Jumat di lorong-lorong, di tempat senam, kafetaria dan ruang kelas. Jadi Bagaimana kita pada satu sisi menyatakan pelarangan  terhadap Jumat virtual selama pandemi ini, sementara pada saat yang sama mengabaikan kondisi yang sama  pada waktu normal, ketika itu sesuai dengan keinginan kita?

Dalam penutup artikelnya Syeikh Ahmad Kuty mensimpulkan bahwa bagi orang-orang yang melihat persyaratan fiqih sebagai sesuatu yang muthlak, maka ia telah mengakui ketidaksahan jutaan orang yang shalat di Maramayn dan diseluruh dunia termasuk masjid-masjid di daerah mereka sendiri. Allah lebih mengetahui yang terbaik. (*)

Alumni Madrasah Tarbiyah Islamiah Canduang, Dosen Fak Syariah UIN Imam Bonjol Padang, dan Wapemred inioke.com