Padang, inioke.com–Satuan Tugas Fakultas Syariah UIN Imam Bonjol Padang menyerahkan sembako, uang saku dan kuota internet.

“Sebanyak 150 paket dibagikan kepada mahasiswa Fakultas Syariah yang masih bertahan dan tertahan di Kota Padang akibat merebaknya COVID-19,” kata Kordinator Satgas Covid 19 Fak Syariah UIN Imam Bonjol Padang, Abrar Datuak Gampo Alam, kepada inioke.com dipelataran Gedung 1, Kampus Lubuk Lintah, Kamis (16/4).

Sementara itu, Sekretaris Satgas, Muhammad Taufik Tuanku Rajo Mangkuto, mengatakan, mahasiswa Fakultas Syariah yang tertahan di Kota Padang sekitar 200 orang. Sekitar 80 persen diantara mereka, umumnya sebagai garin atau marbot di surau dan masjid yang tersebar di seluruh Kota Padang.

“Mereka masih tinggal di kota ini karena pengurus masjid. Jamaah masih meminta mereka untuk tetap tinggal guna melaksanakan tugas penyelenggaraan shalat lima waktu. Kemudian sisanya, mereka yang kampungnya susah, bahkan tidak memiliki akses internet sementara kuliah dijalankan dengan sistim online atau daring,” ungkap Wapimred inioke.com ini.

Penyerahan bantuan ini juga dihadiri oleh Wakil Rektor III, Ikhawan Matondang, yang menyampaikan apresiasi terhadap gerak cepat satgas dan relawan Fakultas Syariah, yang mengumpulkan bantuan lebih kurang Rp30 juta dalam tiga hari.

Baca juga :  Hendri Septa Giat Sosialisasi Perwako tentang Pola Hidup Baru dalam Pandemi Covid-19

“Kegiatan yang sangat memiliki dimensi sosial dan hanya bisa dilakukan oleh aktivis. Juga kegiatan ini memiliki dimensi pahala, membantu orang dalam kesulitan. Apalagi yang dibantu adalah mahasiswa kita,” ujar Ikhawan.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada dosen-dosen Fakultas Syariah yang secara spontan tampil di depan dalam membuat satgas ini. Kemudian mampu menggerakkan seluruh potensi, baik dari dosen, alumni dan jaringan yang ada dalam waktu yang cepat.

“Ini menjadi gerakan bersama dan berharap untuk masa yang akan datang  lembaga sosial ini bisa berjalan sepanjang waktu,” ujar Dekan Fakultas Syariah dalam sambutannya.

Logistik Garin mulai berkurang

Mahasiswa UIN Imam Bonjol umumnya bekerja sebagai garin atau marbot sambil menyelesaikan kuliah. Mereka tersebar hampir di semua masjid dan mushala di Kota Padang. Dalam kondisi sekarang banyak dari mereka yang masih bertahan karena jamaah masih meminta bertahan. Ketika masjid dan mushala diminta ditutup dan kegiatan shalat jamaah ditiadakan, maka otomatis mereka tidak ada kegiatan lagi. Kondisi berkorelasi dengan kesejahteraan mereka. Sementara untuk pulang kampung mereka tidak dibolehkan oleh warga kampung atau orang tua mereka. Alhasil mereka tertahan di Kota Padang sampai waktu yang belum pasti.

Baca juga :  COVID-19 merebak, anggota DPRD Pasaman Barat bikin resah dengan tetap kunker

“Ini menjadi perhatian kita semua, bahwa garin termasuk kelompok yang memiliki tingkat  kerentanan yang tinggi dalam situasi seperti ini. Di sebagian masjid dan mushala  mereka terpaksa tetap melakukan tugas. Sementara itu jaminan terhadap  kesehatan mereka tidak ada. Kemudian dari data yang kami himpun, kami juga menemukan asupan logistik untuk para garin sudah mulai berkurang sejak kegiatan ibadah ditiadakan atau dikurangi,” terang Abrar.

Memantau mahasiswa

Satgas dalam kegiatannya juga melakukan pemantauan ketersediaan logistik dan kesehatan para mahasiswa. Sekarang kita sudah dibuat WhatsApp Group (WAG) untuk memantau perkembangan kesehatan dan kehidupan sehari-hari mereka. Sehingga, kegiatan Satgas ini tidak berhenti pada pemberian sembako, uang dan kuota saja.

“Kita akan tetap melakukan pengumpulan dana, karena kita belum tahu kapan wabah ini berakhir. Tidak berapa lama lagi kita memasuki bulan Ramadhan. Kita juga masih mengindentifikasi persoalan yang akan mereka hadapi. Mudah-mudahan kita tetap bisa mendampingi dan membantu mereka. Jika ada yang ingin tetap bertahan sampai lebaran atau atau yang berkeinginan pulang kampung,” pungkas Abrar. (BOY)

Baca juga :  Di Kota Padang, APD untuk Puskesmas Masih Terpenuhi