Bimbi Irawan

 

SAWAHLUNTO tidaklah sekedar “the oldest coal mining town in Southeast Asia” yang telah ditetapkan sebagai World Heritage oleh UNESCO di Kota Baku Azerbaijan. Kota Sawahlunto sesungguhnya complicated, yang bisa dinikmati dan dijelajahi dari berbagai aspek, mulai dari peninggalan tambangnya, bentang alamnya, social budayanya, transportasi, kereta api, perkembangan kota, dan banyak lainnya. Kota ini sangat disarankan bagi pelancong tidak hanya peminat sejarah, tetapi juga bagi pecinta alam, serta bagi para peneliti.

Berbicara tentang tambang batubara Ombilin Sawahlunto, sesungguhnya kita tidak bisa hanya terpaku dengan teknik pertambangan saja. Tetapi adalah bagaimana aktivitas tambang mempengaruhi pembangunan fisik Kota Sawahlunto sampai pada kehidupan sosial budaya masyarakatnya. Tak hanya itu, aktivitas tambang Sawahlunto berkait erat pula dengan perkembangan transportasi di Sumatera Barat terutama pembangunan jaringan kereta api dan pelabuhan Teluk Bayur. Kegiatan tambang di Sawahlunto benar-benar berdampak terhadap hampir seluruh sendi kehidupan ekonomi masyarakat Sumatera Barat.

Sebagai kota tambang tertua di Asia Tenggara, pasca ditemukannya batubara oleh De Greve, kota ini tentunya banyak meninggalkan situs-situs bersejarah terkait dengan akivitas tambang batubara. Padahal, kota ini lahir dari persawahan dan perladangan masyarakat Nagari Kubang. Dengan ditemukannya batubara, Kolonial Belanda meminta kepada para penghulu nagari Kubang untuk mengelola daerah pertanian di Nagari Kubang ini menjadi kawasan pertambangan. Rupanya, Kolonial Belanda masih menggunakan pendekatan adat Minangkabau kepada para penghulu nagari Kubang dengan membayar siliah jariah, sebuah proses penggunaan tanah ulayat untuk kegiatan yang menguntungkan secara ekonomi di atas tanah ulayat.

Situs-situs, terutama bangunan, umumnya tersebar di kawasan Kota Lama Sawahlunto yang berada dalam cekungan mirip kuali besar, karena itu dulunya selain dikenal sebagai Kota Tambang, Sawahlunto juga dijuluki Kota Kuali. Di Lembah yang dialiri Batang Lunto inilah Belanda membangun tambang batubara Ombilin. Lubang-lubang tambang digali untuk mendapatkan batubara yang diekspor ke Jepang dan negara Eropa seperti Belgia, Jerman, Perancis, Inggris, Swedia, dan negara Norwegia. Pada masa itu, batu bara begitu amat penting untuk menjalankan mesin uap yang menggerakkan banyak industri di negara Eropa.

Baca juga :  Kisah Isolasi Mandiri Ny RA, Kejujuran dan Keterbukaan Menambah Rezeki

Kegiatan tambang memicu banyak pembangunan di Lembah Soegar tersebut, sehingga membuat perubahan yang drastis dari kawasan pertanian menjadi kawasan kota tambang. Belanda membangun kantor untuk mengurusi admnistrasi kegiatan tambang, membangun kawasan permukiman bagi pegawai tambang, bahkan sampai membangun gedung untuk menyediakan ransum bagi pekerja tambang. Bayangkan, aktivitas gedung yang sekarang menjadi Museum Gudang Ransum, adalah saksi bisu kegiatan penyediaan makan minum bagi pekerja tambang. Tidak hanya penggali batu bara, juru masak pun dibutuhkan guna mendukung sektor tersebut. Bahkan sampai rumah sakit yang ternama di Sumatera  Tengah, berada di Kota Sawahlunto.

Yang tak kalah pentingnya, keberadaan tambang batu bara di Sawahlunto membawa terjadinya revolusi transportasi di Sumatera Barat. Tanpa sengaja, sebagian besar rakyat Sumatera Barat turut merasakan perkembangan moda kereta api sejalan dengan perkembangan kereta api di belahan dunia lain. Untuk memasarkan batubara yang berada di pegunungan, tentu butuh pelabuhan laut yang akan mengangkutnya ke daratan Eropa. Pada awalnya, direncanakan memanfaatkan sungai Batang Ombilin dan Batang Kuantan sehingga batubara sampai di pantai timur Sumatera untuk kemudian dikapalkan ke Eropa. Usaha ini gagal pasca meninggalnya De Greve di daerah Silokek Sijunjung diseret arus Batang Kuantan pada ekspedisi mencari jalan batubara ke Pantai Timur Sumatera. Akhirnya, pilihan mengapalkan batubara jatuh ke Kota Padang. Dibangunlah jaringan kereta api yang menghubungkan Kota Sawahlunto hingga ke Teluk Bayur dengan melewati Kota Padang Panjang.

Sesuai perkembangannya, jaringan kereta api berkembang sampai Bukittinggi, Payakumbuh, Pariaman, bahkan sampai ke daerah pelosok seperti Limbanang dan Sungai Limau. Selain untuk transportasi batu bara, kereta api juga berkembang sebagai moda angkutan umum bagi penduduk Sumatera Barat bagian tengah. Sejatinya, batubara sawahlunto, merupakan tiga serangkai yang tidak terpisahkan dengan perkembangan kereta api di Sumatera Barat dan pembangunan Pelabuhan Teluk Bayur.

Baca juga :  COVID-19 Sudah Menyebar di 280 Kota/Kabupaten di Indonesia

Sebagai kota tambang, Sawahlunto tidak hanya diminati oleh orang Minangkabau saja, tapi didatangi oleh beragam etnis, baik yang datang untuk mencari keuntungan dari aktivitas tambang, maupun para tahanan yang tak mampu menolak paksaan menjadi buruh rantai. Tidak hanya orang Minang, orang Jawa, Bugis, Madura, Batak, bahkan etnis China datang ke kota ini berebut cipratan manisnya aktivitas tambang batubara nan hitam. Orang Belanda pun banyak berdiam di kawasan tambang ini, sehingga karena banyaknya orang Belanda, daerah ini akhirnya dibentuk menjadi sebuah gementee, semacam kota otonom di masa sekarang. Batubara telah membuat Sawahlunto menjadi sangat multietnis.

Batubara adalah sumber energi yang terbatas. Lambat laun, seiring berlalunya waktu, cadangan batubara pun menyusut, dan membuat aktivitas pertambangan tidak lagi menguntungkan secara ekonomi. Kota ini akhirnya mulai ditinggalkan. Penduduk yang didominasi oleh pekerja tambang banyak pindah ke Sumatera Selatan, pasca digabungnya Tambang Batu Bara Ombilin menjadi bagian PT. Bukit Asam. Untunglah, status sebagai gementee pada zaman Kolonial Belanda diwarisi menjadi kotamadya di masa kemerdekaan, menyelamatkan denyut nadi Sawahlunto dari kematian. Berkat statusnya sebagai kota otonom itu, kegiatan pemerintahan di kota ini tetap membuat aktivitas ekonomi senantiasa terus berjalan yang menggerakkan banyak sektor. Hebatnya, kota ini secara tepat dan jitu membangun visinya untuk mewujudkan kota wisata tambang yang berbudaya. Kota ini terselamatkan dari matinya sebuah kota pasca berakhirnya kegiatan tambang batubara PT TBO.

Baca juga :  Uang Mafia Italia “Menggoda” di Masa Krisis Coronavirus

Rupanya, nasib baik masih berpihak pada Kota Sawahlunto. Warisan kota tambang batubara tertua di Asia Tenggara ini, berkat usaha dan perjuangan seluruh unsur terkait terutama pemerintah dan masyarakat Kota Sawahlunto, pada tanggal 6 Juli 2019, ditetapkan sebagai World Heritage oleh UNESCO.

Harapan kita, dengan status baru ini, tentu saja peninggalan-peninggalan tambang di kota ini harus dijaga dan dirawat sehingga status tersebut tetap bertahan menjadi mahkota bagi Sawahlunto. Peninggalan tambang harus disenerjikan dengan potensi lain, dikolaborasikan dalam rangka menambah kunjungan ke kota Sawahlunto. Dengan harapan, jumlah kunjungan akan berbanding lurus pula dengan perkembangan sektor-sektor ekonomi lainnya.

Tak hanya kota tua, tak hanya bangunan peninggalan pertambangan, kota ini menyimpan keindahan alam yang mempesona. Daerah yang berkontur berbukit-bukit ini, menyajikan pemandangan yang beragam. Di kawasan Kota Lama saja, paling tidak tersedia tiga tempat indah untuk memandang kawasan kota lama, ada Puncak Cemara di utara, Puncak Polan di timur, dan sebuah bukit kecil di selatan Kota Lama. Di kawasan perluasan kota, terdapat pula batu runcing di Silungkang, hutan batu di Lumindai, atau Danau Biru di Talawi.

Beralih ke aspek sosial budaya, Sawahlunto sudah punya brain image yakni Tenun Songket Silungkang. Ditambah lagi seni, tradisi, dan situs-situs budaya yang tersebar di nagari-nagari yang masuk perluasan kota tahun 1990 perlu dikolaborasikan dalam pengembangan kota Sawahlunto ke depan. Pengunjung diharapkan tidak hanya menikmati pesona warisan tambang, tetapi memperlama masa kunjungan dengan menikmati potensi lain yang dimiliki Sawahlunto. Event-event yang dilaksanakan hendaknya mampu mensinerjikan segala potensi, sehingga pengunjung tidak langsung merasa puas dengan satu atraksi saja, tetapi merasa perlu menikmati sensasi-sensasi lain yang ditawarkan Sawahlunto. (*)

Penulis adalah Peneliti pada RANCAK PUBLIK