Oleh: Yuniarsih Endah Palupi

Sejak tanggal 13 Maret lalu, Pemerintah Latvia menetapkan status gawat darurat nasional (State of Emergency Declaration). Awalnya, kegiatan belajar mengajar tatap muka dihentikan sampai tanggal 14 April nanti. Namun, status gawat darurat nasional ini kemudian diperpanjang hingga tanggal 12 Mei nanti. Bagaimana kebijakan ke depannya akan sangat tergantung dari situasi terkini saat itu.

Kasus Covid-19 di Latvia, tidaklah sebanyak di negara-negara lainnya di benua Eropa. Per tanggal 18 April, kasus positif ada 712, jumlah pasien sembuh 88 orang dan meninggal 5 orang. Namun perlu diingat bahwa Latvia adalah negara kecil dengan jumlah penduduk hanya sebesar 1,9 juta jiwa saja. Sejak kasus di negara–negara Eropa Barat dan Skandinavia merebak, Pemerintah Latvia langsung melakukan antisipasi.

Sekolah Taman Kanak-kanak (TK) tidak diwajibkan libur, namun jika merasa perlu meliburkan juga tidak masalah. Orangtua bekerja diberikan keringanan, jika tidak ada yang menjaga anak-anak, mereka di rumah.

Akses di perbatasan negara sudah ditutup dari arus keluar masuk dengan kendaraan umum. Saya agak ngeri membayangkan perjalanan virus dengan banyaknya arus keluar masuk manusia menjelang penutupan akses pada tanggal 17 Maret lalu. Hingga saat ini, penerbangan yang diizinkan hanyalah penerbangan khusus ke negara tertentu yang bertujuan untuk memulangkan warga negara asing (WNA) dan mengembalikan (repatriasi) Warga Negara Latvia dari negara yang dimaksud.

Baca juga :  Warga Guguak Belum Berhasil Ditemukan

Ada banyak kantor yang mengijinkan pegawai mereka untuk WFH. Namun, karena saat status gawat darurat nasional  pertama diberlakukan saya sedang magang di sebuah bank, di mana pekerjaan operasional bank tidak bisa dilakukan dari rumah, mau tidak mau saya tetap melakukan rutinitas seperti biasa.

Kota Riga yang memang lengang, menjadi semakin lengang. Suasana di jalan malam hari sudah terasa seperti tengah malam, saking sepinya.

Di kendaraan umum, untuk social distancing, penumpang tidak diijinkan masuk dari pintu depan. Untuk menjaga jarak dengan pengemudi, bangku paling depan juga dibatasi dengan garis polisi.

Walaupun penumpang tidak berdesakan, tetap saja tidak bisa membuat jarak satu meter dengan penumpang lain. Setelah beberapa minggu, hanya ada satu tempat duduk yang boleh diduduki hingga jarak minimal satu meter. Pada minggu ke empat, pemerintah mulai mencabut fasilitas diskon tiket bus untuk semua kalangan, baik lansia atau pelajar. Kebijakan ini sebagai upaya tambahan agar warga kota Riga tidak lagi naik bus, namun jalan kaki saja atau bahkan diam saja di rumah.

Baca juga :  Pasien Positif COVID-19 dari Tanah Datar Melahirkan dengan Selamat
Aturan physical distancing di dalam bus. Kursi yg disilang tidak boleh diduduki.

Sementara itu, kelas online sudah mulai berlangsung. Terbayang tidak, bagaimana susahnya les bahasa Mandarin online?

Bagi saya pribadi yang tujuan utama tinggal di Riga memang untuk menempuh pendidikan S2, saya menjadikan kondisi saat ini sebagai kesempatan untuk lebih fokus belajar dan menambah keahlian dan pengetahuan sebanyak mungkin. Sepertinya mudah, namun pada kenyataannya tidak begitu. Kondisi mental yang sehat tetap harus dijaga karena bagaimana pun, saya tetap merasa cemas dan tidak nyaman dengan keharusan untuk tinggal di dalam rumah saja.

Sekali seminggu saya dan beberapa mahasiswa asing di sini melakukan pertemuan online selama kurang lebih dua jam. Kami mengadakan semacam “support system” dimana kami bisa saling mencurahkan perasaan dan saling menguatkan.

Di saat perayaan Paskah minggu lalu, kami mengadakan kegiatan semacam “Scavanger hunt” yaitu mengikuti instruksi mencari beberapa lokasi foto yang diberikan oleh panitia. Kami melakukannya secara berpasangan, sehingga tidak melanggar peraturan pemerintah. Mulai minggu lalu, hanya dua orang maksimal diizinkan tampil di lokasi umum, baik di dalam atau pun luar ruangan. Itu pun harus tetap menjaga jarak sejauh dua meter. Saat kami berada di taman umum, selalu ada beberapa orang polisi yang siap siaga mengawasi semua orang yang berkerumun. Jika kedapatan melanggar, warga akan didenda mulai dari Eur 10 hingga maksimal Eur 2,000. Dengan denda sebesar itu pun, masih ada warga yang melanggar lho.

Baca juga :  RSUD Sijunjung Siapkan Ruang Isolasi untuk Pasien COVID-19

Tugas kuliah tetap diberikan seperti biasa. Untuk mengerjakan tugas kelompok, kami melakukan WhatsApp call. Segala cara yang halal dilakukan demi mendapat nilai terbaik! (*)