Oleh: Yusrizal KW

 

Membagi kebahagiaan kepada seseorang (dhuafa), sedekah semesta yang mencerahkan hati dan hari.

Suatu hari, di Bandara Internasional Minangkabau, saya menunggu jam terbang menuju Jakarta. Ruang tunggu keberangkatan, terlihat ramai dari biasa. Karena ternyata, hari itu, hari pertama libur baru saja berlangsung.
Sambil membaca sebuah novel sastra, tiba-tiba telinga saya mendengar percakapan yang asyik, yang saat itu terasa lebih seru dari dialog novel yang sedang saya baca. Percakapan dua anak sekolah dasar (SD), yang duduk di samping saya. Saya menoleh kepada dua anak ini. Yang satu mengenakan kaos berwarna pink dengan sweater hitam, dan yang satu lagi, tepatnya yang di sebelah saya, mengenakan baju putih lengan panjang dengan jilbab warna biru.

“Nanti sampai di Jakarta, kata papaku, kita langsung ke hotel. Pokoknya, liburan kita bakal asyik. Kita juga akan pergi ke Bandung, dan hotelnya sudah dipesan papaku. Pokoknya, kamu gak usah malu-malu. Kata mama, anggap saja, aku, papa dan mamaku, adalah keluarga kamu….” Kata gadis kecil berbaju pink.

Saya mulai menangkap siapa mereka sesungguhnya. Si pink, dari pembicaraan barusan, adalah orang yang mengajak si jilbab biru, pergi liburan. Sepertinya, gadis kecil berjilbab biru ditraktir liburan oleh keluarga si pink.

“Aku belum pernah naik pesawat. Aku agak cemas,” kata si jilbab biru tiba-tiba. Si pink kulihat tertawa, dan menjelaskan, “Mulanya aku juga begitu. Sampai sekarang, aku juga masih takut. Tapi, kata mama, naik pesawat itu, insya Allah, lebih aman. Oya, nanti di pesawat kita dikasih sarapan sama tante pramugari,” kata si pink.

Lalu, si pink memaparkan pengalamannya beberapa kali naik pesawat. Tampaknya, cerita si pink mengasyikkan, sehingga jilbab biru yang sedari tadi terlihat risau, mulai agak tenang.

Baca juga :  Bung Hatta, Ulama Tanpa Panggilan "Ulama"

Sesaat kemudian, keduanya terdiam. Kulihat gadis kecil jilbab biru, matanya menerawang kosong ke depan. Sementara si pink, tampak tenang-tenang saja. Tak lama si pink berdiri, menghampiri mamanya, yang duduk tak jauh di deretan kursi agak ke depan. Si jilbab biru tinggal sendiri, ia berada di sampingku.

“Tadi itu adiknya atau kakaknya,” tanyaku pada si jilbab biru.

Gadis kecil ini menatapku, lalu menjawab lemah, “Teman sekelasku.”

“O teman sekelas. Sama-sama pergi liburan ya?” ulasku lagi.

Dia tersenyum. Kemudian mengangguk.
Tak lama, si pink datang. Mereka duduk berdua, bersisian lagi. Tapi kali ini lebih banyak diam.

“Kok diam aja sih?” tanya si pink.

Jilbab biru men jawab, “Waktu mau berangkat tadi, ibu memelukku. Ibu menangis. Ia bilang, sampaikan terima kasih pada papa dan mamamu, yang mau ajak aku ikut liburan bersama keluarga kalian karena aku juara kelas. Kalau dari uang ibu, tak mungkin aku bisa ke Jakarta. Naik pesawat. Mana mungkin kata ibu, upah cuci, upah buruh bangunan ayah, bisa kasih uang liburan. Untuk bisa sekolah di sekolah favorit saja, aku sudah syukur….”

Tiba-tiba novel yang sedang kupegang, kehilangan greget ceritanya mendengar dialog dua anak ini. Ternyata, si pink, teman sekelas si jilbab biru. Jilbab biru, anak tukang cuci dan buruh bangunan. Si pink, keluarga mampu, berada secara ekonomi, mengajak si jilbab biru liburan bersama keluarganya. Ini kisah yang mengharukan bagi saya. Saya ingin tahu alasan mengajak anak tukang cuci liburan itu apa? Namun, rasanya juga nggak enak bertanya langsung kepada si pink.

Baca juga :  Bobolnya Tokopedia dan Pentingnya Perlindungan Data Warga Negara

Tiba-tiba seorang laki-laki setengah baya menghampiri dua anak itu. Sebelum laki-laki setengah baya ini bicara dengan anaknya berbaju pink, ia menoleh ke saya. Kami sama-sama terkejut. Ternyata, ayah si pink sahabat baik saya.

Dari sang ayah, saya dapat cerita. Si jilbab biru, teman sekelas anaknya. Jilbab biru, dari keluarga kurang mampu. Dia juara 1 di sekolah favorit, di kelas unggul. Anaknya, si pink cuma masuk 10 besar.

Suatu hari, pink cerita rencana liburan bersama teman-teman. Hanya ada satu anak yang tidak bicara mau kemana. Maka si pink bilang ke ayahnya, bagaimana kalau ajak si jilbab biru itu ikutan liburan. Sahabat saya, papanya, mengatakan, ini usul yang baik. Kita harus bersedekah kebahagiaan kepada orang kurang mampu. Sedekah itu, katanya kepada saya, bisa dengan cara mengajak mereka menikmati kebahagiaan bersama keluarga kita, dengan niat ia seperti bagian dari keluarga kita.

Mengajak sahabat anaknya ini liburan, katanya, bagian dari pendidikan kepada anak. Bahwa, kita harus mau berbagi kebahagiaan dengan orang lain, terutama keluarga miskin. Kebaikan harus ditanam dengan cara membuktikan inilah salah satu hakikat kebaikan itu. Sedekah, membantu orang, tidak melulu soal memberi sejumlah uang. Tapi, ngajak orang dhuafa makan siang bersama satu meja dengan kita, liburan satu pesawat dan hotel dengan keluarga kita, adalah bentuk lain, perluasan hati yang membahagiakan karena spirit berbagi.
Terpenting mengajak si jilbab biru, bahwa dia merasa diajak bukan karena dia miskin. Sahabat saya mengatakan, perlu ditegaskan kepada dirinya, ini karena dia juara kelas. Artinya, dengan cara ini, ia merasa bangga, ternyata prestasinya dapat penghargaan liburan dari keluarga sahabat satu kelasnya si pink. Setidaknya, ia merasa punya harga diri. Bukan karena miskin, tapi karena prestasi.

Baca juga :  Covid 19 dan Tekanan Berat APBN 2020

Dalam penerbangan ke Jakarta, di atas pesawat, saya tak semangat membaca novel yang baru beberapa halaman telah saya baca. Saya tercenung dengan kisah dua sahabat satu kelas ini. Entah kenapa, di kepala saya wajah gadis kecil jilbab biru itu membayang begitu lekat. Saya tiba-tiba justru membayangkan ayahnya yang buruh, ibunya yang tukang cuci, sedang merasa bahagia, karena anaknya bisa liburan.

Saya membayangkan, sahabat saya itu, dalam kelimpahan rezeki yang mengalir dalam doa tulus si buruh dan tukang cuci.

Ketika sampai di Bandara Soekarno-Hatta, di Jakarta, saya melihat si pink dan si jilbab biru turun tangga pesawat bersisian. Wajah jilbab biru mulai berseri. Mungkin, ia sedang merasakan hari paling bermakna dalam hidupnya, yang akan dikenangnya sampai dewasa nanti. Mungkin, ia sedang berpikir, menyusun cerita sepulang liburan, untuk diceritakan kepada ayah dan ibunya, betapa dahsyatnya liburan naik pesawat dan menginap di hotel berbintang serta mengunjungi tempat hiburan.

Saya berpikir, mudah-mudahan, gadis kecil berjilbab biru ini, berpikir hebat, kalau ia sedang menikmati paket liburan juara kelas yang masuk melalui jalur sedekah kebahagiaan dari keluarga sahabat baiknya.
Mungkin karena saya gampang haru, mata saya berkaca-kaca. Saya jadi ingin memeluk si jilbab biru, dan menyelipkan sedikit uang ke tangannya untuk tambahan jajan liburannya bersama keluarga baik hati itu. (*)

Yusrizal KW, Penulis Sastra