Amelia Neirenberg dari New York Time meliput sebuah keluarga Bangladesh yang kehilangan bisnis mereka karena kerusuhan akibat kematian George Floyd, namun mereka tetap mendukung para demonstran dan membantu petugas medis merawat korban.
Pada hari Jumat pagi, ketika fajar menyingsing dan awan masih bergelantungan di langit Minneapolis, Restoran Gandhi Mahal musnah oleh api. Hafsa Islam, dimana ayahnya bersama anggota keluarganya pemilik restoran Bangladesh-India, bangun pukul 6 pagi dan mendengar kabar itu.

“Awalnya, saya marah,” kata Hafsa, 18. “Ini adalah sumber utama pemasukan keluarga saya.”
Tetapi kemudian dia mendengar ayahnya, Ruhel Islam, berbicara dengan seorang teman di telepon. “Biarkan restauran saya terbakar,” katanya. “Keadilan perlu diberi jalan.”
Pada Jumat sore, setelah api padam dan keluarganya berkumpul, ia mengulangi kembali dukungannya terhadap gerakan protes yang menyebabkan restorannya terbakar. “Kita dapat membangun kembali sebuah bangunan, tetapi kita tidak dapat membangun kembali manusia,” kata Bapak Islam, 42. “kita memiliki komunitas, dan kita masih bisa gotong royong untuk membangun kembali.”

Baca juga :  Andani : Jika Positivity Rate Covid-19 Sumbar Terus Naik Bisa Berujung Kematian Nakes

Selama berhari-hari, keluarga Islam menyaksikan protes atas penangkapan dan pembunuhan George Floyd, pria Afrika-Amerika yang meninggal pada hari Senin setelah seorang perwira polisi kulit putih menelungkupkannya ke tanah, dengan lutut ditekan ke leher Floyd. Petugas tersebut telah dipecat, dan pada hari Jumat ditangkap dan didakwa melakukan pembunuhan tingkat tiga (pembunuhan tidak disengaja/pembunuhan karena kelalaian), kata pihak berwenang.
Restoran ini hanya berjarak beberapa pintu dari Kantor Markas Besar Polisi Ketiga Minneapolis yang dibakar oleh para demontran pada kamis malam. Bangunan-bangunan lain juga terbakar, dan api akhirnya mencapai restoran kami.

Nyonya Islam, yang mengantar makanan dengan cara Door Dash (pemesanan makanan secara online) mengatakan dia menghentikan mobilnya di lampu merah pada hari senin ketika Floyd ditangkap. Dia menyaksikan, peristiwa yang mengerikan itu dari mobilnya, katanya. Dia baru tahu kemudian bahwa orang tersebut meninggal.

“Saya mengerti mengapa orang melakukan tindakan anarkis,” katanya tentang para demonstran. “Mereka telah mencoba dengan protes damai, dan itu tidak berhasil.”

Baca juga :  Hardiknas di Tengah Pandemi, Mari Belajar dari COVID-19

Gandhi Mahal dibuka pada 2008, pada saat Resesi Hebat (Great Recession) . Meskipun Bapak Islam percaya pada protes nirkekerasan, ia menamai restorannya untuk menghormati Tokoh Mohandas K. Gandhi, namun ia berempati dengan frustrasi penduduk Minneapolis.
“Saya akan terus mempromosikan cara-cara damai dan gerakan tanpa kekerasan,” katanya. “Tapi generasi muda kita marah, dan ada alasan mereka untuk marah.”

Jadi ketika barikade polisi menembakkan gas air mata ke kerumunan demontrasi pada hari Selasa, keluarga Islam menyediakan sebuah kamar di restoran mereka yang luas untuk petugas medis, yang mendirikan rumah sakit lapangan darurat. Hafsa mengatakan dia menyaksikan setidaknya 200 orang masuk dan keluar pada hari selasa dan rabu malam.

Beberapa orang perlu mengatur napas setelah menghirup gas air mata, katanya. Seorang wanita tertembak peluru karet, merusak penglihatannya. Peluru karet juga merobek bagian belakang leher seorang pria. Ketika dia jatuh pingsan, petugas medis membaringkannya di atas meja.
“Kami hanya berusaha melakukan apa yang kami bisa untuk membantu komunitas kami,” kata Islam, yang membantu merawat demonstran yang terluka. “Tentu, kami memiliki bisnis dan kami berusaha menjaga dapur kami tetap mengepul. Tetapi lebih dari segalanya, kami peduli terhadap saudara-saudara kami. ”

Baca juga :  Patung Mantan PM Winston Churchill dirusak Saat Demonstrasi Black Live Matter di Inggris

Ketegangan yang dirasakan di perantauan oleh keluarga Islam mengingatkannya akan masa kecilnya di Bangladesh, ketika dia hidup di bawah kediktatoran. Dua dari teman-temannya dibunuh oleh polisi, katanya. “Kami tumbuh di negara yang membuat kami trauma terhadap aparat, jadi saya kenal dengan situasi seperti ini,” katanya.

Restoran ini telah menjadi pusat upaya antaragama melawan perubahan iklim (climate change), dan koleksi seni yang berkiatan dengan hal tersebut sudah musnah oleh api. Di ruang bawah tanah (basement), keluarga juga membudidayakan peternakan aquaponic kecil untuk memasok bahan-bahan segar untuk restoran.

“Sekarang mungkin, seluruh ruang bawah tanah adalah aquaponic dengan air,” kata Pak Islam, sambil tertawa melihat alat penyiramnya yang sudah rusak. (Taufik/nytime.com)