Oleh: Deddy Arsya

 

 

Jika Anda memperlakukan si sakit tak ubahnya sebagai ‘penjahat’, menempelkan stigmatisasi yang tidak kalah menyakitkan dari sakit itu sendiri, bagi yang akhirnya meninggal jenazahnya pun bahkan harus Anda tolak untuk dimakamkan di lingkungan Anda, bagi yang berhasil sembuh Anda masih tetap darinya menjauh, maka sesungguhnya Anda telah kembali ke masa lalu yang amat lampau.

Ini tentang lepra atau kusta. Penyakit menular khas tropis yang sampai saat ini masih ditetapkan sebagai ancaman mematikan.

Ibunda Tuanku nan Renceh dibuang ke hutan karena penyakit ini. Si ayah, untuk mempertahankan posisinya sebagai semenda di rumah gadang istrinya, mengawini adik iparnya. Perempuan itulah yang dihukum bunuh pemimpin Harimau nan Salapan itu—sejarah mencatat kalau Tuanku nan Renceh menghukum mati etek kandungnya sendiri karena ‘makan sirih’.  Tapi bagi sastrawan Wisran Hadi, persoalannya tidaklah sesederhana itu: Pembunuhan terjadi lebih karena jalinan dendam antarpersonal dalam satu keluarga Minangkabau bersebab dan berkarena penyakit. Narasi semacam di atas itu ada dalam salah satu lakonnya dalam Empat Lakon Perang Paderi.

Saya telah melacak buku-buku sejarah pada umumnya tentang Padri, dan tak menemukan yang begitu. Entah dari mana Wisran mencupliknya, bisa jadi itu dari hasil olahan imajinasinya sendiri. Toh, yang dibuatnya adalah naskah sandiwara, kerja kreativitas manusia.

Tapi, tentu ada cukup banyak keterangan tentang kusta dalam masyarakat tradisional yang bisa jadi telah menginspirasinya. Tidakkah karya sastra muncul bukan dari ruang vakum sejarah? Baca saja kaba (cerita rakyat) Cindua Mato yang terkenal, misalnya, Dang Tuanku diisukan terkena semacam kuto (kusta) sehingga tidak jadi kawin dengan Puti Bungsu. “Manuruik kato urang panggaleh, Dang Tuanku lah ditukak jo ditekong, dipuru jo dinambi,” begitu tertulis dalam kaba. Dengar juga kisah tentang pembentukan Kerajaan Kuto Besa’ (mungkin Kuto Basa?), sapiah-balahan Pagaruyung. Bermula dari Puti Reno Langguak yang terkena kusta dan harus disingkirkan (dan menyingkir lebih jauh) ke hutan belantara yang di tempat itulah kemudian berdiri kerajaan.

Baca juga :  Bosnia Memperingati 25 Tahun Setelah Pembantaian Srebrenica

Dari narasi-narasi di atas itu dapat dikatakan kalau kusta adalah penyakit kuno khas Nusantara. Dia dicatat cerita-cerita rakyat. Dia ada dalam mantra-mantra cenayang. Dia ada dalam lagu murung perabab dan dendang sedih pendendang. “Penyakit perusak tubuh” ini termasuk jenis penyakit yang paling ditakuti masyarakat Asia Tenggara sejak lama, demikian tulis Anthony Reid dalam Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680. Lalu, bagaimana sesungguhnya masyarakat tradisional itu menanggulangi penyakit menular yang satu ini?

Kusta tidak saja telah mencoreng muka si penderitanya, tetapi juga membuat malu seluruh kaum-keluarganya. Si penderita, anggota kaum, untuk itu harus diasingkan ke hutan.

‘Dibuang’ seperti ibu Tuanku nan Renceh.

“Dicampakkan ke tepi rimba, berpondok di tepi sungai,” seperti yang dialami Dang Tuanku dalam cerita rakyat.

‘Mengasingkan diri’ atau ‘berkirap’ seperti  Puti Reno Langguak.

Dalam masyarakat tradisional, penyakit tertentu dipandang bersumber dari aib (ia hadir sebagai bala atau kutukan). Dalam masyarakat setengah-nomaden, permukiman yang ‘tercemar’ mesti ditinggalkan. Tapi, dalam masyarakat pertanian-menetap, bala yang menjangkiti permukiman mesti dibuang dengan suatu ritus, di mana bala direpresentasikan ke dalam wujud tertentu. Baik dengan cara dihanyutkan ke sungai ataupun dilemparkan ke arus laut. “Ritus itu berlangsung berkala dan akan lebih sering lagi bila wabah tengah berkecamuk,” ditulis Anthony Reid lagi dalam karya yang sama.

Baca juga :  15 Orang Penerima Beasiswa Jurnalistik Diundang ke inioke.com

Namun, bagi yang tampak nyata, zahir pada tubuh seperti kusta misalnya, maka si penderita-lah yang ‘mesti’ disingkirkan.  Setidak-tidaknya itulah yang ditulis William Marsden dalam History of Sumatra. Dia mencatat tentang perlakukan terhadap penderita kusta di kalangan masyarakat tradisional di Sumatra sebelum abad ke-19. Orang-orang yang menderita penyakit ini biasanya kulitnya berlepasan dalam serpihan-serpihan, sedangkan gumpalan daging berjatuhan dari tulang. Oleh karena dianggap sangat mudah menular, kata Marsden, orang yang menderita penyakit ini ‘diusir dari kampung tempat tinggalnya dan diasingkan ke hutan’.

Tampaknya, praktik seperti itu bertahan sampai menguatnya peran ilmu kesehatan modern terutama setelah memasuki abad ke-20. Di tiga dasawarsa awal abad itu, Soeloeeh Agam edisi April 1933 misalnya menulis “Katarangan tantangan pamaliharoan oerang nan bapanjaki’ gilo dan lepra (koesta)“. Apa katanya mengenai yang terakhir? Pada masa itu, kusta memang masihlah penyakit yang sama menakutkannya seperti abad-abad lalu, yang pindah-memindah  dan  mematikan orang. “Panjaki’ ko sangat babahajo dan pindah mamindah, panjaki’toe boeliah manggoegoeakan dagiang dan toelang, taboeang sakare’-sakare’, hinggo kamoedian mamatikan oerang,” demikian tertulis dalam suratkabar itu selengkapnya.

Gejala awal penyakit ini pun susah dikenali sehingga orang awam mengira itu penyakit kulit biasa macam nambi dan poeroe dan ketika sudah parah baru diketahui. Namun, sekalipun begitu, telah terdapat upaya massif untuk ‘pemeliharaan’ secara medis, menyerahkan penanganannya ke tangan para dokter dan mantri, alih-alih pengabaian + stigmatisasi dengan praktik ‘buang’ ke hutan. Untuk menampung para penderita, pemerintah juga telah menyiapkan beberapa rumah sakit khusus dan sedang menjajaki kebijakan untuk isolasi yang lebih terukur.

Baca juga :  BKKBN Sumbar Targetkan 17 Ribu Akseptor KB dalam Harganas

Laporan tahun 1930 yang disusun J. Stroomberg, Handbook of the Netherlands East-Indiest menyebut, ada 43 rumah sakit bagi penderita kusta yang tersedia, yang ketika itu merawat 3.800 pasiennya. Jumlah yang relatif kecil jika dibandingkan jumlah keseluruhan penderita yang mencapai angka 50.000 di seluruh Hindia Belanda. Tapi, setidak-tidaknya, sampai titik ini, terlihat kalau ilmu medis modern telah menjadi bagian dari upaya menanggulangi kusta yang lebih masuk akal. Jika di abad yang lalu, si penderita masih akan dilepaskan ke hutan untuk menemukan nasibnya, kini dia mesti diserahkan ke Angku Doto dan Angku Mantari untuk dirawat dan diisolasi di rumah-rumah sakit khusus penyakit ini—tentu saja juga untuk menemukan nasibnya: sehat-sembuh atau terjangkit-mati? “Tapi, itulah cara yang lebih beradab dan manusiawi,” kata dunia modern membanggakan diri.

Pada akhirnya, penyakit—apa pun jenisnya—bukanlah aib yang hadir karena dosa atau kutukan. Si penderita adalah korban yang mesti disehatkan dengan berbagai cara, bukan malah distigmatisasi sebagai sumber bala. (*)

Pandai Sikek, 2020

Deddy Arsya, dosen sejarah di IAIN Bukittinggi

 

/wahyuandre.wordpress.com