Padang, inioke.com—Barangkali, karena hanya imbauan—bukan larangan—terhadap perantau agar tidak pulang kampung, maka tidak banyak yang mendengarkan. Imbauan Gubernur Sumbar tersebut belum berpengaruh terhadap kepulangan orang rantau ke kampung halamannya.

Sejak diberlakukan pembatasan selektif tanggal 31 Maret lalu, perantau yang pulang juga semakin bagaduru. Tercatat, 49 ribu perantau pulang kampung dalam kurun waktu 11 hari sampai sekarang. Jika dirata-ratakan, lebih 4000 orang pulang ke Sumbar setiap harinya, masuk dari 9 pintu perbatasan. Dalam jumlah yang begitu banyak, kemungkinan membawa (carrier) COVID-19 juga besar.

“Data itu dari 9 perbatasan Sumbar dan Bandara Internasional Minangkabau,” ungkap Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno.

Irwan tidak menampik kemungkinan, jumlah ini akan terus bertambah hingga lebaran nanti. Sebab, tradisi orang Minangkabau di rantau, pulang setiap lebaran. Walaupun demikian, ia tetap mengimbau para perantau, ada baiknya tidak pulang kampung lebaran tahun ini, karena wabah corona yang penularannya sangat cepat.

“Saya tidak bosan mengimbau para perantau untuk menahan diri pulang kampung. Kasihanilah keluarga kita di kampung,” imbaunya sekali lagi.

Baca juga :  Hati-hati! Dua Kucing Positif COVID-19 di New York

Tersebab sulit untuk membendung keinginan perantau pulang kampung, Irwan bersama jajaran pemerintahan Provinsi Sumbar telah menyiapkan beberapa strategi di perbatasan. Diantaranya, melakukan pendataan secara mendalam dan menyeluruh. Data tersebut dikirim ke Pemkab dan Pemko tujuan perantau untuk mengawasinya hingga tingkat nagari dan jorong.

“Kalau mereka menunjukkan gejala, dianjurkan untuk isolasi mandiri. Kami juga menyediakan tempat untuk karantina bagi mereka. Sebelumnya memang ada kendala soal data ini. Sekarang alurnya sudah berjalan. Data perantau yang masuk pasti sampai ke daerah tujuan,” ujarnya.

Kemudian, perantau yang telah sampai di kampungnya diminta untuk mengikuti prosedur isolasi mandiri tanpa harus dipaksa. Pelaksanaan isolasi mandiri para perantau ini diawasi oleh jajaran pemerintah paling bawah. Untuk pengawasan ini, ia sudah mengeluarkan instruksi agar pejabat pemerintahan terbawah aktif memantau mereka yang baru pulang dari rantau.

Diakuinya, masih banyak perantau yang tidak mengikuti prosedur isolasi mandiri 14 hari di rumah tersebut. Untuk itu, ia meminta pemerintah kabupaten/kota lebih aktif memberikan pemahaman bahaya COVID-19 kepada masyarakat terutama perantau yang baru pulang. Agar isolasi ini berjalan sesuai prosedur, masyarakat juga diharapkan berpartisipasi mengawasi mereka dan ikut memberikan penyadaran terhadap yang masih keras kepala.

Baca juga :  Kapal Rusak, Wagub Sumbar dan Rombongan Terkatung-katung di Sikakap

Irwan juga tidak lupa mengajak para petinggi atau ketua organisasi perantau untuk bisa memberikan pemahaman kepada anggotanya, kalau masih bisa bertahan hidup di rantau, jangan pulang dulu. Ia juga menyadari, pandemi virus corona ini menyerang hampir seluruh sendi kehidupan, termasuk para perantau. Sehingga, tidak mungkin untuk melarang mereka pulang kampung. Namun, selagi masih bisa ditahan, alangkah baiknya menunda kepulangan tersebut.

“Partisipasi para tetua rantau untuk memberikan pemahaman kepada yang ingin pulang kampung sangat kami harapkan. Menunda dulu (pulang kampung—red) sampai wabah ini berlalu,” ujarnya. (GYN)