Lebih dari separuh responden (54,6 persen) yang tidak terlibat sebagai penyelenggara Pemilu khawatir dengan pelaksanaan Pilkada serentak 2020 di masa wabah Virus Corona.

Sebanyak 15,5 persen lainnya menyatakan ragu dan 29,9 persen tidak khawatir. Sebaliknya responden yang terlibat sebagai penyelengaran 37,8 persen menyatakan khawatir, 18,4 persen ragu-ragu dan 43,2 persen tidak khawatir. Meski tingkat kekhawatiran antara dua kelompok responden ini relatif lebar, namun terkait pelaksanaan protokol kesehatan penting menjadi perhatian bersama. Kekhawatiran tersebut tergambar pada kesediaan dari responden untuk dikunjungi oleh penyelenggara.

Sebahagian besar (53,5 persen) responden menyatakan tidak bersedia untuk dikunjungi oleh penyelenggara Pemilu. Hanya 34,5 persen yang menyatakan bersedia dan 12,1 persen menyatakan ragu-ragu.

Artinya lebih dari 60 persen responden keberatan untuk dikunjungi. Kondisi tersebut tentu persoalan serius dalam melanjuti tahapan Pilkada. Karena sejumlah tahapan akan berkaitan dengan aktivitas tersebut. Misalnya pada tahapan verifikasi dukungan untuk calon perseorangan. Aturannya penyelengara akan melakukan verifikasi faktual melalui kunjungan kepada mereka yang secara adminitratif dinyatakan memberikan dukungan kepada calon perseorangan.

Baca juga :  Hendri Septa Ungkap Strategi Pengembangan Wisata Pantai Air Manis

Tahapan lain yang akan melakukan kegiatan serupa adalah pemutakhiran data. Artinya KPU sebagai penyelenggara tahapan tersebut harus punya strategi sendiri agar proses tahapan dapat berjalan dengan baik.

Bentuk sosialisasi mana yang diinginkan oleh responden dalam peleksanaan Pilkada serentak 2020. Sebahagian besar responden menginginkan dalam bentuk tidak tatap muka. Terdata 51.3 persen responden mengingkan dilakukan secara daring (facebook, whatsapp, facebook, instagarm, youtube) dan 23,1 persen dilakukan dengan menggunakan media luar ruang seperti baliho, spanduk, stiker dan lain-lain).

Sedangkan yang bersedia melalui pertemuan tatap muka sebesar 10,8 persen. Bagaimana jika pertemuan tatap muka tetap dilakukan. Responden yang menjawab tidak akan menghadiri sebanyak 61,9 persen, menjawab ragu-ragu 18,4 persen dan 19,8 persen menyatakan akan menghadiri. Dari temuan ini tantangan kembali pada penyelenggara. Kreativitas dari penyelengara sangat dibutuhkan menyampaikan sosilisasi.

Masih terkait dengan pelaksanaan Pilkada pada masa pandemi Covid 19. Apakah menurut responden Pilkada tersebut akan berjalan dengan jujur dan adil, Sebahagian besar responden yang tidak terlibat sebagai penyelenggara tidak yakin Pilkada akan berjalan dengan jujur dan adil. Terbukti 34,5 persen responden menyatakan ragu-ragu, dan 28,7 persen tidak percaya.

Baca juga :  Putuskan Tidak Perpanjang PSBB, Pemko Bukittinggi Waspadai Pendatang dari Padang

Sedangkan yang memilih percaya berjumlah 36.8 persen. Berbeda dengan responden yang belatar penyelenggara. Sebanyak 75,7 persen menyatakana percaya bahwa Pilkada serentak 2020 akan berjalan dengan jujur dan adil. 18,4 persen menyatakan ragu-ragu dan 5,9 persen menyatakan tidak percaya.

Meski merasa khawatir dan relative rendahnya kepercayaan akan berjalan dengan jujur dan adil responden tetap akan berpartisipasi dalam Pilkada serentak 2020. Tercatat 75,9 persen responden menyatakan akan berpartisipasi. Sedangkan yang menyatakan tidak akan berpartisipasi hanya berjumlah 8,1 persen sedangkan yang masih ragu sebanyak 16,1 persen. Relatif sama dengan responden yang menjadi penyelenggara tingkat partisipasi jauh lebih tinggi 95,68 persen menyatakan akan ikut berpartisipasi, ragu-ragu 3,24 persen ragu-ragu dan 1,08 persen menyatakan tidak akan berpartisipasi.

Meski tingkat partisipasi dapat dikatakan tinggi namun menarik dicermati dari kelompok penyelenggara sebanyak 15,2 persen belum memastikan akan berpartisipasi dalam Pilkada serentak 2020. Meski belum ada penelitian dan penjelasan yang mendalam namun kondisi tersebut patut untuk mendapat catatan Bersama.

Baca juga :  Posko Kongsi Nagari Tageh Rumah Gadang Cegah Penularan COVID-19

Survei yang dilakukan oleh Revolt Institute bekerjasama dengan inioke,com dilaksanakan pada tanggal 9 sampaai 11 Juni 2020. Sebanyak 359 responden berpartisipasi dalam survei ini. Responden tersebar di seluruh Kabupaten/ Kota di Sumatra Barat. Penyeberan kuisioner dilakukan secara daring dengan memanfaatkan aplikasi google formulir.

Dalam melakukan analisa data, responden dikelompokkan menjadi dua, yakni kelompok penyelenggara dan kepelompok tidak penyelenggara. Proses crosstab dari kedua kelompok data dilakukan dengan menggunakan program SPSS.

 

Team Peneliti Revolt Institute