Imbauan jangan mudik yang disuarakan banyak pihak tidak sepenuhnya efektif membendung arus pergerakan orang pulang kampung. Banyak faktor yang dapat diketengahkan, kenapa kampanye ini tidak efektif.

Pertama, dilihat dari jenis pekerjaan para perantau. Sebahagian perantau bekerja pada sektor informal. Frekwensi lalu lalang orang menjadi penentu kebertahanan jenis pekerja ini. Semakin dinamis mobilitas masyarakat, semakin menguntungkan dan begitu sebaliknya. Kebijakan physical distancing, memberi batasan mobilitas orang. Bagi mereka yang pekerja di sektor informal, kondisi tersebut tidak menguntungkan. Maka, pilihan rasional yang mereka lakukan adalah mudik. Dengan alasan berbeda, bagi yang bekerja pada sektor formal kebijakan bekerja di rumah juga dimanfaatkan untuk mudik.

Kedua, meski risiko penyebaran virus corona semakin terbuka ketika terjadi mudik, namun kebijakan pemerintah soal mudik oleh banyak pihak dinilai tidak tegas, ambigu dan membingungkan masyarakat. Ketidaktegasan tersebut bagi masyarakat merupakan peluang untuk keluar dari krisis ekonomi yang semakin hari semakin memburuk.

Dalam perspektif lain, perlu melihat bagaimana masyarakat di kampung, merespon arus mudik di masa wabah virus corona.

Baca juga :  Sekretariat DPRD Kembali Lakukan Tes Swab

Hasil Survei

Yuri Gita Putri

Berikut beberapa hasil survey yang dilakukan oleh Revolt Institute bekerjasama dengan inoke.com. Survei dilakukan pada tanggal 12 sampai 13 April 2020. Survei diikuti oleh 907 responden, tersebar di seluruh kabupaten/kota di Sumatera Barat. Pengumpulan data dilakukan melalui daring. Survei ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat atas dampak multidimensi dari wabah virus corona.

Secara keseluruhan sebanyak 89,3 persen responden mengaku memiliki saudara dekat yang berada di perantauan. Terkait dengan penyebaran wabah virus corona yang terus meningkat respon menilai kampanye jangan pulang kampung perlu dilakukan. Tercatat 73,1 persen menyatakan setuju agar para perantau tidak pulang kampung. Sebanyak 28,8 persen menyatakan tidak setuju dengan imbauan tersebut tapi syaratnya para perantau yang pulang wajib melakukan karantina terlebih dahulu. Sedangkan responden yang menyatakan tidak setuju sebanyak 1,8% persen.

Meski setuju dengan imbauan tersebut namun responden 75,8 persen menyatakan tidak akan melarang jika ada sanak family yang ingin pulang kampung. Realitasnya 67,9 persen responden menyatakan dalam dua minggu ini ada perantau yang pulang kampung. Dari sejumlah responden yang bersedia diwanwancarai lebih dalam, menyebutkan alasan para perantau pulang kampung rata-rata adalah faktor ekonomi dan kesehatan. Faktor ekonomi berhubungan dengan mulai sepinya pusat-pusat perbelanjaan. Sedangkan yang menyebutkan faktor kesehatan, pilihan untuk pulang kampung berhubungan dengan strategi untuk menyelamatkan anggota keluarga dari wabah virus corona.

Baca juga :  Politeknik Negeri Padang Bantu Wastafel SMA Negeri 2 Padang

Selanjutnya 39,9 peresen responden melihat ketentuan untuk melakukan isolasi secara mandiri belum secara keseluruhan dilakukan oleh para perantau yang pulang kampung. Sebanyak 23.2 persen menyatakan tidak mengetahui. Sedangkan yang menyatakan telah melakukan isiolasi mandiri jumlahnya masih sangat kecil yakni 16,7 persen. Berdasarkan wawancara mendalam, aktivitas isolasi mandiri lebih didasari pada kesadaran warga. Isiolasi biasanya dilakukan di rumah saja.

Bahagian akhir yang juga menarik untuk diperhatikan adalah masih relatif rendahnya sosialisasi dan peran dari pihak Puskesmas dalam mengawasi lonjakan perantau yang pulang kampung. Tercatat 24,1 persen responden menyatakan sudah secara keseluruhan petugas Puskesmas telah melakukan kunjungan atau mengontak. Sedangkan 29,4 persen menyatakan baru sebahagian yang melakukan kunjungan atau mengontak. Lebih besar dari itu 33,7 persen menyatakan tidak tahu. Salah satu faktor yang menyebabkan tidak optimal pemantauan dari Puskesmas adalah masih sedikitnya laporan yang menginformasikan kedatangan para perantau ini.

Secara keseluruhan dapat dilihat bahwa dari presfektif responden, setuju kalua perantau tidak pulang kampung. Namun responden juga tidak akan melarang jika ada perantau yang akan pulang kampung. Responden juga menyadari pentingnya isolasi bagi para perantau yang baru datang. Namuan kesadaran untuk melakukan isolasi mandiri masih rendah di masyarakat. Akibatnya pemantauan yang dilakukan oleh pihak Puskesmas tidak dapat berjalan secara optimal.

Baca juga :  Seorang Pasien Dalam Pengawasan Asal Tanah Datar Meninggal

Team Revolt Institute