Respon positif ditunjukkan oleh masyarakat Sumatera Barat dalam menghadapi serangan virus corona (Covid-19).

Simpulan tersebut setidaknya tergambar dari hasil survei yang dilakukan oleh Revolt Institute dan inioke.com.

Dari survey yang dilakukan, 83,8% responden menjawab telah mulai membatasi aktivitas di luar rumah. Adapun 12,4% yang menjawab belum membatasi keluar rumah menyatakan menjaga jarak dalam melakukan interaksi sosial. Respon tersebut tentu sejalan dengan ajakan pemerintah untuk memutus rantai penyebaran virus corona.

Yuri Gita Putri

Namun, data tersebut juga menunjukkan meski telah ada mulai membatasi untuk beraktivitas di luar rumah tapi bukan berarti tidak keluar sama sekali. 73,64% diantaranya menyatakan masih keluar rumah untuk urusan penting. Adapun urusan penting yang dimaksud adalah tuntutan pekerjaan, urusan keluarga dan pemenuhan kebutuhan pokok. Pada konteks ini bisa jadi mengurangi aktivitas di luar rumah bisa jadi tidak berdampak banyak bagi pemutusan mata rantai penyebaran virus.

Bagaimana respon masyarakat jika pemerintah melakukan pembatasan secara total. 24,47% menyatakan sepakat. 51,3% sepakat dengan catatan pemerintah memberi bantuan terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok. Sedangkan 18,4% sepakat untuk dibatasi dan 5,9% menyatakan tidak sepakat. Sekali lagi faktor pekerjaan menjadi alasan responden ketika diberlakukan pembatasan ada mobilitas sosial.

Baca juga :  Pasca Ditutup, Wawako Hendri Tinjau Objek Wisata Pantai Air Manis

Adapun faktor yang paling mempengaruhi pilihan responden untuk membatasi aktivitas di luar rumah adalah kesamaan padangan bahwa virus corona adalah wabah yang membahayakan. 91,3% sepakat menyatakan COVID-19 berbahaya, 5,2% ragu dan 3,1 menyatakan tidak. Opini ini juga temuan menarik, mengingat meski penyebaran virus corona menunjukkan kecenderungan meningkat, tapi secara populasi ancamannya tidak terlihat dalam lingkungan keseharian. Dalam realitas, responden hanya bisa mengindetifikasi terdapat Orang Dalam Pemantauan (ODP). 61,4% responden menyatakan dilingkungan mereka sudah ada ODP. Mereka adalah orang yang baru datang dari perjalan jauh terutama perantau dan mahasiswa.

Jika demikian faktor apa yang menyebabkan responden berhati-hati dengan virus corona. Survei ini menunjukkan pengetahuan responden terhadap wabah virus Corona bersumber dari pemberitaan melalui media sosial dan televisi. 43,2% responden menyatakan telah mengikuti perkembangan virus corona sejak pertama kali mewabah di Wuhan. Lebih banyak lagi ketika virus ini masuk ke Indonesia. Kewasapadaan semakin tinggi ketika pemberitaan menyebutkan di Sumatera Barat sudah ada yang positif COVID-19. Artinya, secara keseluruhan kesadaran masyarakat untuk mengurangi aktifitas di rumah lebih pada pengetahuan mereka terhadap bahaya virus Corona.

Baca juga :  WAG TOP 100 Serahkan Bantuan APD Trip Keenam

Temuan survei ini dapat dikatakan mengejutkan. Menginat selama ini, opini yang muncul adalah akan sulit menghimbau masyarakat untuk mengurangi aktifitas di luar rumah. Dilihat dari sisi kebijakan, himbauan pemerintah untuk membatasi interaksi dengan lingkungan sosial merupakan hal pertama kali bagi masyarakat. Bahkan dapat dikatakan bertentangan dengan himbauan-himbauan yang ada sebelumnya. Lain dari itu, secara sosiologi masyarakat terbiasa hidup dalam budaya offline atau tatap muka secara langsung. Jamak dengan sistem nilai dan norma yang terbangun selama ini. Begitu juga dengan kondisi ekonomi masyarakat, sebahagian besar masyarakat bekerja di sektor informal. Sektor pekerjaan yang sulit dilakukan dari rumah. Secara psikologis serangan virus corona tidak memiliki wujud, sehingga sulit untuk memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan. Namun survei ini menunjukan pengetahuan tentang bahaya yang diakibatkan dari virus corona mengalahkan faktor-faktor di atas.

Survei ini tentu tidak dapat mewakili seluruh masyarakat Sumatera Barat, karena keterbatasan metode dalam penarikan sampel. Tapi setidaknya survei ini dapat menjadi gambar bagi pengambil kebijakan untuk merumuskan langkah penanganan wabah kedepan. Survei dilakukan selama dua hari, mulai dari tanggal 2 sampai 3 April 2020. Jumlah responden yang berpartisipasi sebanyak 903 orang, tersebar di 19 kabupaten/ kota. Penyebaran koesioner dilakukan secara online dan terbuka bagi seluruh masyarakat Sumatera Barat. Survei ini merupakan sesi pertama dari sejumlah rangkaian survei yang akan dilakukan oleh Revolt Institute dan inioke.com.

Baca juga :  203 Orang Positif dan 37 Orang Sembuh dari COVID-19 di Sumbar

Team Revolt Institute dan inioke.comĀ