Oleh: Pramono

 

Inilah tawa sakik perut. Hai kancang-kancang rayu si anu (nama orangnya) janganlah engkau merusakkan, maniayo pado si anu. Kalau engkau marusakkan, maniayo si anu (nama orang yang diobati), engkau disumpahi Allah, disumpahi Muhammad, disumpahi Quran tigo puluah juz. Berkat laa ilaha illa allah Muhammad Rasulullah. Ramuannyo: dasun dan bawang merah. Tokok, aduk dengan minyak tanah dan minyak manih, baruikkan pado paruik dan batihnyo. Itulah mantra sakit perut. (Inilah tawa sakit perut. Hai kencang-kencang rayu si anu (nama orangnya) janganlah engkau merusak, menganiaya si anu. Kalau engkau merusak, menganiaya si anu (nama orang yang diobati), engkau disumpahi Allah, disumpahi Muhammad, disumpahi Alquran tiga puluh juz. Berkat la ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Ramuannya: dasun dan bawang merah. Tokok, aduk dengan minyak tanah dan minyak goreng, diurutkan di perut dan betisnya).

Salah satu teks pengobatan tradisional (Dok Pramono)

 

Kutipan ini merupakan salah satu teks pengobatan tradisional yang terdapat dalam salah satu naskah koleksi Surau Parak Laweh, Pariangan, Kabupaten Tanahdatar. Di surau ini tersimpan puluhan naskah dengan kandungan teks yang beragam: dominan teks keagamaan dan sebagaian kecil tentang pengobatan tradisional, mantra dan azimat. Puluhan naskah tersebut, 33 naskah di antaranya, sudah dideskripsikan dan didigitalkan oleh Zuriati dan M. Yusuf (2008).

Baca juga :  Masuki Era New Normal, Pemko Bukittinggi Izinkan Shalat Berjamaah di Masjid

 

Berbeda dengan naskah-naskah Nusantara (Melayu) umumnya, sampai saat ini belum ditemukan teks pengobatan tradisional Minangkabau yang secara utuh terdapat di dalam sebuah naskah. Biasanya, teksnya bersamaan dengan teks-teks lain dalam sebuah naskah, seperti bersama dengan teks keagamaan, kesusastraan, kesejarahan dan lainnya. Dapat ditafsirkan bahwa, pertama, kemungkinan teks pengobatan tradisional ditulis untuk “pengingat” dari pengetahuan secara lisan yang cenderung mudah dilupakan dan hilang begitu saja. Kedua, teks tersebut ditulis kemudian di dalam naskah-naskah yang sudah ada dan yang sudah tertulis. Hal ini berhubungan erat dengan ketersediaan kertas pada masa itu.

Teks pengobatan yang tidak dominan tersebut bukan berarti tidak penting. Melalui teks itu akan diperoleh informasi berkenaan dengan pengetahuan lokal yang berkaitan dengan bahan ramuan dan cara pengobatan secara tradisional. Beberapa nama jenis tumbuhan dan hewan serta peralatan yang digunakan untuk pengobatan dapat digunakan sebagai data penting untuk penyusunan kamus tematik, misalnya kamus etnomedisin Minangkabau.

Antara lain teks pengobatan tradisional

Menariknya, teks pengobatan tradisional yang terdapat di dalam naskah-naskah koleksi Surau Parak Laweh sangat beragam. Nama penyakit, jenis obat dan cara pengobatan yang disebutkan di dalam naskah tidak hanya untuk manusia saja, tetapi juga untuk tanaman pertanian dan hewan ternak. Semua ditulis dengan huruf Jawi dengan bahasa Melayu-Minangkabau. Sayangnya, agak sulit membaca beberapa jenis tumbuhan yang digunakan untuk ramuan karena sudah jarang masyarakat setempat yang mengetahui jenis dan nama tumbuhannya lagi.

Baca juga :  Mulyadi Serahkan Langsung Bantuan APD kepada Ali Mukhni

Teks pengobatan yang terkandung di dalam naskah-naskah tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, pengobatan dengan mengunakan ramuan saja. Kedua, pengobatan dengan ramuan dan doa (mantra). Ketiga, pengobatan yang dilakukan dengan doa dan atau mantra saja. Dalam konteks ilmu sosial dan budaya tentu saja menjadi data penting untuk pemahaman tentang kosmologi masyarakat berkaitan dengan sakit dan cara pengobatannya. Dalam bidang eksakta, khususnya biologi dan farmasi, dapat mengetahui penamaan secara lokal tentang nama flora dan fauna yang digunakan sebagai ramuan obat. Tentu saja dapat dilanjutkan dengan uji klinis berkenaan dengan ramuan obat tersebut. Bukan tidak mungkin, dari kekayaan pengetahuan lokal tersebut dapat direlevankan dengan keperluan hidup hari ini, khususnya keperluan dalam bidang kesehatan.   (*)

Pramono, Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Universitas Andalas