Oleh: Refki Riyantori

Bagi penggemar sepak bola tentu tidak asing dengan dua strategi ini, strategi yang sempat mengantarkan klub klub elit Belanda dan Italia mengecap puncak kejayaan kompetisi sepakbola, baik regional maupun internasional. Italia terbukti membawa pulang Piala Dunia 1982 melalui strategi ini. Lalu apa hubungannya dengan kondisi pandemi dan UMKM hari ini?

Sejenak mencoba menjadi pengamat sepakbola, strategi cattenaccio yang menurut Bahasa Italia artinya kunci, yaitu strategi yang bertumpu pada kekuatan pertahanan (defensive strategi), dengan posisi dua layer di depan gawang. Artinya ada 2 tembok yang akan dihadapi sebelum lawan akhirnya sampai ke jantung pertahanan.

Lain lagi dengan strategi total football, strategi yang diramu oleh pemain pemain Belanda era 70-80an, kebalikan dari cattenaccio, agresive, dan tiap pemain bisa berganti posisi. Konon kabarnya, beberapa kali pertandingan cattenaccio bisa dilumpuhkan oleh strategi ini pun sebaliknya total football kadang-kadang lengah ketika terjadi serangan balik dari cattenaccio.

Jika hari ini kita diibaratkan bermain bola, pertandingan yang paling tidak dinanti, pertandingan hidup mati, antara UMKM dengan pandemi, maka strategi mana yang akan kita mainkan? “Latihan”dan “kompetisi” bertahun-tahun melawan banyak situasi sudah dilewati, ada versus kriris 98, krisis 2008, atau krisis-krisis kecil ibarat kompetisi tarkam-antarkampung, menjadi sparing partner UMKM. Tapi kali ini lawannya berat, semua “klub” raksasa tumbang dan kewalahan, tak hanya satu aspek, tapi banyak aspek yang dihajar oleh lawan ini.

Baca juga :  Kebingungan Linguistik di Tengah Wabah

Banyak praktisi menyarankan utk bertahan, ibarat cattenaccio, perkuat pertahanan, cash is king, kurangi kebocoran keuangan, persempit cash outflow, benar benar efisien, hingga  pemerintah sebagai “wasitnya” juga melonggarkan peraturan, relaksasi pajak, grassperiod pinjaman, pengurangan beban listrik air hingga kartu prakerja dan BLT.

Praktisi lainnya menyarankan, pivot bisnis, lakukan apa yang bisa kita lakukan hari ini, from offline to online, optimalkan semua asset utk generate sales, yang penting uang masuk, buat bayar karyawan. Karena pilihan sulit untuk merumahkan tanpa gaji, ada empati yang memang harus dipegang tinggi, karena bisnis tak melulu soal untung rugi, tapi juga tentang menghidupi. Ibarat total football, semua tim harus berdaya, tukar posisi, harus bisa jadi sweeper kalau dibutuhkan. Penjaga gawang pun harus jadi striker, ingat Jose Luis Chilavert,  penjaga gawang nyentrik yang sering cetak gol? Atau, saat Tom Kusczak kiper MU di kartu merah di perempat final piala FA, lalu Rio Ferdinand mendadak harus jadi kiper.

Ada yg salahkah dengan dua strategi bola diatas untuk UMKM ? mana yang harus dipilih? salah satu, salah dua? Inilah indahnya permainan, bahwa kita ternyata tidak harus kaku menjalankan strategi, innovate or die kata Pete Drucker, kombinasi atau justru melahirkan strategi baru dari lawan tanding yang kuat. Bukankah Tiki-taka yang indah itu ada bagian total footballnya dan ada sentuhan cattenaccionya? On top of that, energi, fokus dan kekompakan tim menjadi kunci eksekusi strategi, mari terus kita jaga agar pertandingan ini dapat kita lewati bersama dengan selamat dan menjadi tim yang kuat sesudahnya.

Baca juga :  Memahami dan Strategi Menghadapi COVID-19

Salam SepakCorona! (*)

Refki Riyantori, adalah Healthpreneur,  Sekjen TDA Padang