Negara-negara yang dipimpin oleh laki-laki perkasa seperti Trump, Bolsonaro, Obrador, Modi, Duterte, Orban, Putin, Netanyahu, hanya mampu menciptakan ketakutan dengan gaya yang otoriter di masa wabah. Berbeda dengan perempuan pemimpin dunia, bersahaja namun inovatif serta tegas. Terlihat dalam kasus penanganan COVID-19 perempuan dalam tulisan ini lebih menarik kiranya.

 

Kita banyak menemukan perempuan pemimpin di dunia yang mampu mengeluarkan negaranya dari krisis akibat covid 19 dengan cara yang mengagumkan. Mereka adalah Mette Frederiksen (Denmark), Kartin Jakobsdottir (Islandia) Sanna Marin (Finlandia), Angela Merkel (Jerman), Jacinda Ardern (New Zealand), Erna Solberf (Norwegia) dan Tsai Ing-wen (Taiwan). Pandemi ini akhirnya mengungkap tabir bahwa mereka semua memiliki apa yang diperlukan ketika virus ini bergerak mengepung negara mereka.

Angela Merkel,  Kanselir Jerman, sedari awal dengan tenang menyampaikan kebenaran kepada masyarakatnya bahwa corona ini adalah wabah yang sangat serius. Ia meyakinkan masyarakat, bahwa ini akan menginfeksi hingga 70 % dari jumlah penduduk.

Dengan gayanya yang berani menyampaikan fakta kebenaran, akhirnya Jerman mampu melompati fase penolakan, kemarahan dan ketidakjujuran dari masyarakat sebagaimana yang disaksikan di negara-negara tetangganya di Eropa seperti Itali. Dengan caranya  tersebut, Jumlah kematian di Jerman jauh di bawah negara-negara lain yang ada di Eropa, bahkan Jerman dalam waktu dekat mungkin akan mulai memikir ulang soal pembatasan.

Baca juga :  Terapkan Perda AKB, Pemko Padang Panjang segera Bentuk Tim Disiplin Protokol Kesehatan
IG: Yuri Gita Putri

Sama dengan Markel, ketegasan Tsai Ing-wen, Presiden Taiwan, dalam merespon ketika awal-awal tanda wabah ini muncul sekitar bulan Januari, membuahkan prestasi. Dia langsung memperkenalkan kepada publik 124 langkah untuk memblokir penyebaran virus tanpa harus lockdown seperti halnya yang dilakukan di negara lain. Dengan strategi seperti ia berhasil keluar dari ganasnya covid 19. Malahan sekarang negaranya sudah mengirim 10 juta masker ke Amerika dan Eropa. Cara Presiden Tsai menangani pandemi menuai pujian dari CNN dengan mangatakan bahwa cara Tsai ini adalah cara “yang terbaik” di dunia yaitu dalam kemampuannya mengendalikan pandemi dan terbukti sampai sekarang jumlah kematian hanya 6 orang.

Respon cepat juga dilakukan oleh Jacinda Ardern di Selandia Baru. Dia lebih awal melakukan lock down dan menempatkan negaranya dalam kewaspadaan maksimum. Dengan sangat cepat Ardern memberlakukan isolasi diri pada orang-orang yang memasuki Selandia Baru, ketika waktu itu baru ada 6 kasus. Dan setelah itu ia segera melarang orang asing masuk sepenuhnya. Kejelasan dan ketegasannya berujung selamatnya Selandia Baru dari badai. Faktanya sampai pertengahan April hanya ada empat kematian. Dan ketika negara-negara lain mewacanakan mencabut pembatasan, Ardern sebaliknya, memerintahkan semua warga Selandia Baru kembali kekarantina selama 14 hari lagi.

Baca juga :  Humor di Tengah Wabah Corona

Berbeda dengan tiga perempuan di atas, Perdana Menteri Islandia, Katrín Jakobsdóttir, menawarkan pengujian virus corona gratis untuk semua warga negaranya. Dia melakukan itu untuk mempelajari angka penyebaran yang sebenarnya dan tingkat kematian Covid-19 yang terjadi. Sebagian besar negara lainya hanya melakukan tes terbatas bagi orang dengan gejala aktif. Namun di Islandia tes dilakukan secara menyeluruh. Secara proporsional Islandia melakukan screening lima kali lebih banyak dibandingkan dengan Korea Selatan. Lebih jauh dia menerapkan sistem pelacakan menyeluruh.

Sementara itu, Sanna Marin yang menjadi kepala negara termuda di dunia ketika dia terpilih Desember 2019 di Finlandia. Ia pemimpin Milenia yang mempelopori penggunaan influencer di media sosial sebagai agen utama dalam memerangi krisis corona virus. Ia menyadari bahwa tidak semua orang membaca koran, maka ia mengajak influencer dari segala usia untuk menyebarkan informasi yang sahih tentang pengelolaan pandemi.

Yang menarik adalah apa yang dilakukan Perdana Menteri Norwegia, Erna Solberg. Ia memiliki ide yang inovatif. Dia menggunakan media telivisi untuk berbicara langsung pada anak-anak. Dia menjawab pertanyaan anak-anak dari seluruh pelosok negeri, meluangkan waktu untuk menjelaskan mengapa tidak perlu takut terhadap Covid 19. Orisinalitas dan kejelasan ide tersebut membuat kita terharu.

Baca juga :  Pemerintah Melarang Perayaan Demonstrasi Lapangan Tiananmen di Hong Kong
Table jumlaha kasus, kematian dan sembuh dari negara yang dipimpin oleh perempuan

Banyak inovasi sederhana dan manusiawi yang telah disuguhkan oleh kepemimpinan perempuan.  Bahkan Gulfnews.com dalam lansirnya menjelaskan bahwa ada kesamaan, negara yang melakukukan cara-cara terbaik dalam menghadapi pandemi, adalah mereka semua dipimpin oleh perempuan. Bandingkan dengan negara-negara yang dipimpin oleh laki-laki perkasa seperti Trump, Bolsonaro, Obrador, Modi, Duterte, Orban, Putin, Netanyahu. Mereka semua hanya mampu menciptakan ketakutan dengan gaya yang otoriter. Alhasil gaya kepemimpinan perempuan ternyata sangat berbeda dan bermanfaat disaat-saat krisis menerjang dunia seperti sekarang. Bahkan womanagenda.com dalam beritanya yang sangat pedas menyampaikan perbedaan Jacinda dengan Trump “They’re so different it’s hard to believe they’re even the same species (mereka sangat berbeda, susah menyakini padahal mereka makhluk yang sama). Trump dengan kasar menjawab pertanyaan wartawan ketika ditanya bagaimana pemerintahannya menghadapi pandemi. “I had ‘bought’ America through decisive action” ujarnya.

Sebaliknya Jacinda menyentuh rakyatnya dengan lembut dan rendah hati. Ternyata versi trump yang maco dan fullpower impoten dibandingakan dengan versi perempuan yang bersahaja namun inovatif dan tegas. Jadi sudah saatnya kita mempertimbangkan kepemimpinan perempuan dan tentu memilihnya lebih banyak lagi. (Taufik/forbes/gulfnews/spectator usa/womensagenda).