Oleh: Eka Vidya Putra

 

Wabah virus corona (COVID-19) merupakan realitas sosial yang suka atau tidak, harus dihadapi oleh masyarakat. Dalam konsepnya, realitas sosial bisa menunjukan kondisi normal atau tidak normal.

Terkaid virus corona, realitas sosial dikonstrukasikan sebagai sesuatu kondisi yang tidak normal. Ketidaknormal tersebut dapat dilihat dari perubahan sosial yang muncul tiba-tiba dan bergerak dengan cepat. Perubahan sosial dengan ciri seperti itu sangat berisiko dan cenderung menghasilkan anomali dalam masyarakat. Misalnya, pengetahuan yang menyebar di masyarakat penularan virus corona melalui orang yang sudah terinfeksi. Siapa yang sudah terinfeksi tidak dapat ditandai dengan pasti. Maka solusi amannya menjaga jarak dengan semua orang, termasuk dengan keluarga. Akibatnya, interasi sosial kita pada saat ini dalam gangguan besar. Keintiman, rasa hormat, yang disimbolkan dengan bersalaman atau berjabat tangan tiba-tiba menjadi aktivitas terlarang. Lebih buruk lagi kontak sosial yang menjadi ciri masyarakat komunal terbatasi hanya karena ada konsep baru yakni social distancing.

Begitu juga dengan risiko mematikan yang diakibatkan secara langsung atau tidak langsung dari wabah virus corona. Dalam konteks struktur sosial risiko tersebut akan berdampak pada disorganisasi. Disorganisasi biasanya digunakan untuk mengambarkan suatu kondisi tanpa aturan, kacau dan tercerai-berai dikarenakan adanya perubahaan pada lembaga sosial tertentu. Status pandemi yang diberikan kepada virus corona mempengaruhi kelembagaan sosial apakah itu formal atau informal. Secara formal misalnya lembaga pendidikan saat ini tidak dapat memberikan pelayanan maksimalnya, begitu juga dengan rumah sakit, ”jika tidak penting-penting sekali tidak usah berobat ke rumah sakit”. Agaknya situasi yang sama akan ditemui pada institusi lainnya. Jamak dengan itu, pada lingkungan informal kondisinya tidak jauh berbeda. Tenaga pendidik simbol dari keterdidikan tiba-tiba gagap saat berhadapan dengan pembelajaran yang serba daring. Tenaga kesehatan yang tampil rapi dengan baju putihnya, jarang ditemui, begitu seterusnya.

Baca juga :  Mengamati Padang Sepi di Waktu Malam, Mulai Tampak Efek di Rumah Saja

Simpulannya, sistem sosial sedang menjauh dari titik equilibriumnya, Meminjam istilah medis  saat ini kondisi sosial kita sedang akut. Jika itu terus terjadi imunitas sosial dikhawatirkan akan semakin menurun, pada akhirnya akan membawa petaka yang tidak kalah dahsyat dari virus corona itu sendiri.

Kembali ke wabah virus corona. Meski dampak dari penyebaran virus corona berakibat pada banyak sisi kehidupan namun respon yang diberikan masyarakat berbeda-beda. Ada yang menampilkan sikap penuh dengan kewaspadaan, kecemasan, namun ada juga bereaksi biasa-biasa saja, bahkan melihatnya sebagai candaan. Bentuk respon yang diberikan oleh seseorang dipegaruhi oleh pengetahuan atau kognitif. Sumber dari pengetahuan adalah empirisme (indera) dan rasionalisme (akal).

Secara empirisme, daerah-daerah yang baru terpapar oleh virus corona seperti Sumatera Barat sulit menemukannya dalam lingkungan masyarakat. Jumlah populasi presentasinya lebih besar dari angka positif corona itu sendiri. Kondisi empiris yang paling bisa disaksikan langsung secara merata adalah ada orang yang dikelompokkan sebagai Orang Dalam Pantauan (ODP). Sedangkan secara rasional pengetahuan tentang virus corona dapat dilihat dari proses belajar, melalui bacaan atau mendengar. Sumber informasi yang paling dekat dengan masyarakat adalah media sosial dan media elektronik (televisi). Sebelum masuk ke Indonesia, masyarakat sudah mengenal virus corona secara online, tapi mungkin tidak semuanya akan membayangkan ia akan secara offline. Artinya, pengetahuan masyarakat terhadap virus corona lebih dari aspek rasional dari pada aspek empiris. Konsekuensinya, pemahaman terhadap keberadaan virus corona menjadi beragam, tergantung kepada media yang dibaca dan kapasitas dari yang membaca.

Baca juga :  Kabar Duka, Bank BRI Kehilangan Putra Terbaiknya

Terkait dengan kualitas dari pembaca, aspek pengetahuan dipengaruhi oleh banyak variable. Sebagai contoh dalam penelitian sosiologi selalu memasukan variable usia, jenis kelamin dan pendidikan sebagai variable. Pada variable usia, hipotesa atau proposisi yang dibangun biasanya adalah rentang usia akan mempengaruhi pola pikir dan kematangan seseorang. Daya tangkap terhadap suatu objek akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Sedangkan variable jenis kelamin biasanya dikaitkan dengan tingkat mobilitas. Laki-laki lebih banyak bekerja di sektor publik, asumsinya ia akan lebih berinteraksi dengan lingkungan sosial. Maka informasi yang diperolehnya lebih luas dari perempuan. Sedangkan variable pendidikan dikaitkan dengan sumber kualitas, dan penerimaan terhadap informasi.

Realitas lain yang harus diterima dalam masyarakat kita adalah secara horizontal maupun vertical memiliki keberagaman. Dengan begitu, respon yang diberikan terhadap wabah akan juga berbeda pula. Maka, apapun sikap yang ditampilkan oleh masyarakat dapat dipahami sebagai sebuah kewajaran. Namun dalam menghadapi wabah virus corona, memahami perbedaan sikap tidaklah cukup dan tidak juga bijak. Hal yang dibutuhkan hari ini adalah kesamaan sikap dan tindakan dalam merespon berkembangnya virus corona. Kesamaan sikap hanya dapat dicapai jika ada sesuatu yang menjadi superstruktur. Superstruktur dapat diartikan sebagai kekuatan yang memiliki kuasa untuk mempengaruhi. Dalam konteks ini yang dapat dikatakan memiliki kuasa adalah pemerintah. Pemerintah tidak hanya memiliki kewenangan tapi juga tangungjawab. Untuk melaksanakan tangungjawab tersebut, pemerintah dilengkapi dengan piranti kekuasaan, keuangan dan sumberdaya lainnya. Hukum formal memberi hak kepada pemerintah untuk menerbitkan regulasi, mendukung bagaimana regulasi berjalan dan melakukan kontrol atas pelaksanakaan dari regulasi. Tanpa mengurangi apa yang telah dilakukan saat ini, sepertinya pemerintah perlu memberikan langkah lebih dalam merespon wabah virus corona ini. Dampaknya tidak hanya nyawa tapi penggerusan pada sistem sosial. (*)

Baca juga :  Mulyadi Serahkan Langsung Bantuan APD kepada Ali Mukhni

Eka Vidya Putra, Pemimpin Redaksi inioke.com