Oleh: Maiza Elvira

Kita sedang dirisaukan virus corona atau COVID-19. Dunia terserang wabah yang sama. Banyak yang dirawat, banyak pula yang wafat. Wabah penyakit, dengan berbagai nama atau jenis, sejak dahulu kala lazim terjadi. Hari ini kita fasih menyebut corona, dan mencemaskannya.

Berikut ini adalah cerita tentang wabah-wabah penyakit yang terus bergerak melintasi zaman, menjadi senjata biologis yang tercipta secara alamiah, hingga hari ini.

Pandemi atau wabah global, memang menjadi momok menakutkan, bagi siapa saja. Sejarah bahkan mencatat. Pada pertengahan abad ke-14, satu hingga dua pertiga populasi Eropa habis “dibantai” oleh wabah penyakit Black Death, Demam Hitam.

Jared Diamond dalam bukunya Guns, Germs, and Steel menyatakan, jauh sebelum wabah Black Death berkembang di Eropa, ratusan ribu tentara Kerajaan Aztek yang kehebatannya membuat musuh menggigil ketakutan, dapat dikalahkan hanya dengan 100 orang tentara Spanyol yang datang menyerbu. Hal itu dikarenakan wabah penyakit yang telah lebih dulu melemahkan tentara kerajaan itu, sehingga penakluk Eropa dapat dengan mudah mengalahkan mereka.

Begitu juga dengan perang di dunia modern seperti Perang Dunia I dan II, lebih banyak korban perang yang mati akibat terserang wabah penyakit yang diakibatkan oleh perang, daripada luka karena pertempuran. Penyakit, dengan begitu, kata Jared Diamond pula, merupakan kekuatan pembentuk sejarah yang amat menentukan.

Di Indonesia, penyebaran wabah penyakit telah lama terjadi, bahkan sejak sebelum kolonialisme bercokol di sini. Hikayat dan cerita rakyat yang tak bertanggal, kerap menyebutkan tentang pembuangan orang-orang yang menderita penyakit, agar tidak mewabah di tengah masyarakat. Keyakinan purba bahkan menyebutkan, bahwa penyakit adalah bentuk kemarahan roh-roh yang ada di alam semesta, sehingga untuk menyenangkan para roh tersebut, disediakanlah tumbal, lalu wabah pun mereda.

Pada saat kolonialisme bangsa Eropa mulai berkembang di Indonesia, wabah penyakit juga menjadi satu dari beberapa hal yang menjadi perhatian pemerintah kolonial. Saat itu, bagi orang Eropa yang akan ke Hindia—Indonesia, mimpi buruk terhadap wabah penyakit telah dimulai sejak mereka mulai menginjakkan kaki di kapal yang akan membawa mereka berlayar selama tiga bulan ke tanah Hindia. Banyak di antara orang Eropa itu yang bahkan tidak sempat melihat Hindia karena telah kalah oleh gempuran penyakit di atas kapal. Belum lagi membayangkan semua desas-desus mengenai wilayah Hindia yang menyimpan berbagai penyakit endemik yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Baca juga :  Hendri Septa Giat Sosialisasi Perwako tentang Pola Hidup Baru dalam Pandemi Covid-19

Peter Boomgard dalam bukunya Changing Economy in Indonesia; XI. Population Trends 1795-1942, menyatakan, bahwa tidak semua penyakit berasal dari Indonesia itu sendiri. Sebagian adalah penyakit baru yang berkembang karena kontak pelayaran dengan pelaut dan tentara Eropa. Kontak perdagangan Eropa dan Asia sudah lama dihubungkan dengan rute dagang jalur darat jauh sebelum ekspedisi kelautan abad 16 dan 17. Penyakit baru seperti yang dicontohkan Sejarawan Maritim Indonesia, Gusti Asnan, salah satunya adalah Syphilis yang diimpor dari Amerika ke Eropa dan menyertai ekspansi kelautan dan militer Eropa ke Asia termasuk Indonesia di dalamnya.

Saat itu, di tengah masyarakat pribumi yang tinggal di bandar-bandar tempat berlabuhnya kapal-kapal, ketakutan terhadap kemiskinan jauh lebih besar dibanding dengan ketakutan terhadap wabah penyakit. Oleh karena itu wabah Syphilis dan beberapa wabah lainnya sulit ditekan di wilayah tersebut. Nilai ekonomi jauh lebih berharga ketimbang nilai keamanan diri.

Di tengah massifnya wabah penyakit tersebut, bisnis candu dan pengobatan tradisional mendapat tempatnya. Candu, dengan kandungan analgesik yang kuat dapat menghilangkan rasa sakit sehingga sangat diminati oleh banyak orang, terutama di wilayah padat penduduk seperti kota besar dan wilayah perkebunan atau pertambangan. Candu bahkan dipercaya dapat menahan serangan penyakit kolera. Lalu pengobatan tradisional Cina dan pribumi juga mendapat tempat di tengah masyarakat, sehingga kemudian menciptakan lapangan pekerjaan yang baru. Sedangkan pengobatan dokter Eropa, tidak lebih diminati masyarakat, selain karena ongkos praktiknya yang mahal, juga karena ketidakbiasaan masyarakat menggunakan metode pengobatan modern.

Melihat situasi tersebut, pemerintah mulai mengembangkan berbagai metode untuk memperkenalkan pengobatan modern kepada masyarakat. Salah satunya adalah dengan dibukanya sekolah kedokteran STOVIA atau yang biasa kita kenal dengan Sekolah Dokter Djawa. Perlahan-lahan pengobatan tradisional mulai banyak ditinggalkan masyarakat, terutama di kota besar. Ketergantungan pada pengobatan barat semakin tinggi.

Baca juga :  Diskusi Publik : Pemprov Sumbar Terkesan Tidak Serius Menerapkan PSBB

Benarlah apa yang dikatakan Arnold dalam bukunya Disease, Medicine, and Empire tahun 1950, bahwa dalam beberapa dekade belakangan (sejak awal abad 20) telah menjadi jelas bahwa interaksi otoritas kolonial dengan upaya manajemen penyakit, penelitian medis, dan administrasi kebijakan kesehatan jauh lebih kompleks. Kedokteran adalah wahana utama untuk menyebarkan ide-ide kolonial, menawarkan wawasan sugestif kedalam karakter umum ekspansi bangsa Eropa.

Jauh sebelum Arnold mengemukakan idenya tersebut, di Padang, terutama Fort de Kock, sebuah kota yang lahir dari rahim kolonialisme Bahkan wilayah Padang di pantai barat Sumatra sana, yang didapuk sebagai wilayah bersih oleh kolonial juga menjadi tempat ‘pembuangan’ wabah penyakit beri-beri, seperti yang ditegaskan A.A. Niclou dalam laporannya Beri-Beri te Atjeh yang diterbitkan tahun 1880. […] Te Padang moest voor hen worden gebruik gemaakt van loodsen, die vroeger voor de verpleging van vrije koelies hadden gediend, begitu ia menuliskannya. Rumah sakit modern banyak dibuat, bahkan di daerah pedalaman.

Vaksinasi dengan rutin dilakukan pada masyarakat. Hal ini berdampak baik karena wabah penyakit di wilayah ini kemudian menjadi tidak seganas di daerah lain. Cacar, Beri-Beri, Kolera, Tuberculosis, Malaria, Syphilis, Disentri, merupakan wabah penyakit dengan penyebaran yang paling tinggi di Hindia Belanda. Wilayah kota besar, perkebunan dan pertambangan merupakan wilayah yang paling sering dihinggapi wabah penyakit tersebut. Di beberapa tempat penyebarannya bahkan tidak bisa dikendalikan, sehingga pemerintah kolonial membuat tempat-tempat karantina khusus seperti Pulau Onrust di Kepulauan Seribu untuk karantina wabah Lepra, Pulau Rosenggin di Kepulauan Banda Neira juga untuk karantina wabah Lepra.

Kolonialisme di Indonesia berganti tokoh, Jepang masuk dan Belanda kalah. Namun wabah penyakit masih menjadi persoalan yang pelik. Akan tetapi perang lebih mencuri perhatian banyak orang daripada wabah penyakit. Jepang lalu kalah, dan Belanda kembali berniat mengambil posisi. Namun orang Indonesia telah kadung menolak kolonialisme. Perang terjadi selama lima tahun. Banyak yang mati akibat perang, namun tidak sedikit yang mati karena wabah penyakit.

Di Sumatera Barat, beberapa wilayah seperti Alahan Panjang, Muara Labuh, dan Solok (yang merupakan daerah lumbung beras) setiap harinya banyak orang yang mati. Keadaan tubuh yang lemah dan penanganan yang lambat dalam mengurusi orang-orang yang mati tersebut mendatangkan berbagai wabah penyakit di antara masyarakat yang sudah sekarat tersebut. Wabah pes, kolera dan frambosia sudah menjadi wabah langganan di antara masyarakat tersebut.

Baca juga :  Tidak Ada Kepastian Pandemi Corona Berakhir, Nevi Zuairina Minta Efektifkan Regulasi BUMN Energi

Koran Nieuwe Courant edisi 03 Juni 1948 menyebutkan bahwa telah terjadi gelombang besar evakuasi masyarakat dikarenakan wabah penyakit cacar, frambosia, tifus dan kolera di daerah Painan menuju Padang. Dan, dalam hal ini Belanda memainkan peran yang sangat baik. Wabah penyakit kemudian dikemas menjadi aksi kemanusian yang tujuannya hanya satu; propaganda!

Perang dengan Belanda pada akhirnya berhenti. Namun, sewindu kemudian perang saudara pecah di Sumatra Barat. Perang PRRI, begitu orang menyebutnya. Dan kali ini, wabah penyakitpun juga turut andil dalam panggung perang PRRI tersebut. Di beberapa wilayah, pasukan dari Jawa cukup kewalahan menghadapi tentara PRRI yang bergerilya di hutan-hutan Bukit Barisan. Nyamuk hutan Sumatera yang membawa penyakit Malaria cukup membuat gentar pasukan dari Tanah Jawa tersebut. Namun lagi-lagi, perang berhenti.

Dan sekarang, enam puluh tahun kemudian, Sumatera Barat kembali dibuat heboh. Pasalnya bukan karena perang, namun karena kedatangan turis asing dari Cina yang saat ini tengah dilanda wabah Corona. Kedatangan satu rombongan berjumlah lebih 150 orang tersebut mendapat penolakan dari masyarakat Sumatera Barat. Akan tetapi dengan alasan pengembangan pariwisata, rombongan ini diterima dengan baik bahkan oleh Gubernur Sumatera Barat sendiri, dengan suguhan tari Pasambahan yang secara filosofi diperuntukkan bagi tamu yang sangat dihormati. Situasi ini tampaknya merupakan pengulangan-pengulangan dari masa sebelumnya, bagaimana kemiskinan lebih menjadi momok menakutkan dibanding infeksi penyakit, betapapun berbahayanya penyakit tersebut.

Penolakan masyarakat Sumatera Barat kemudian hanya menjadi penolakan semata. Tidak seperti wilayah lain yang benar-benar menolak kedatangan orang-orang atau turis yang diduga membawa wabah ini, Sumatera Barat justru hadir sebagai teman baik yang menerima dengan tangan terbuka dan senyum manis kedatangan ‘virus’ ini dengan alasan pariwisata. Barangkali sang virus bisa dijinakkan dengan suguhan nasi Padang dan keindahan alamnya yang luar biasa.