Pasaman Barat, inioke.com–Hoaks atau berita yang dipelintir mulai bertebaran setelah pemakaman salah seorang warga Pasaman Barat yang positif COVID-19. Pasien yang meninggal tersebut berdomisili di Padang, namun jenazahnya dibawa ke kampungnya Talamau.

Isu hoaks itu ditebar ke tengah-tengah masyarakat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Saat ini, Kecamatan Talamau diisukan telah dinyatakan zona merah di Kabupaten Pasaman Barat.

Selain itu, pasien yang terkonfirmasi COVID-19 yang dimakamkan di Kecamatan Talamau diisukan pernah menginap di Jorong Paroman Kenagarian Sinuruik, sebelum dirawat di RSUP M Djamil Padang.

Akibat isu itu, warga Kecamatan Talamau khusus nya di Kejorongan Paroman sangat dirugikan. Meski semua isu tersebut sudah dibantah oleh Satuan Gugus Tugas COVID-19 Pasbar, namun tetap berkembang di tengah masyarakat.

“Seharus nya pihak berwenang mengambil tindakan terhadap orang-orang yang menebar isu hoaks ini, karena telah merugikan satu kecamatan,” kata Baharuddin Raaban mantan Bupati Pasaman dan Pasaman Barat, yang juga putra Nagari Sinuruik.

Menurutnya, para pelaku penebar hoaks ini jangan sampai dibiarkan berkeliaran, ini bisa menimbulkan keresahan sehingga akan berakibat fatal jika ini dibiarkan. Saat ini warga Jorong Paroman sangat merasakan sekali dampak hoaks yang ditebar.

Baca juga :  RS Ahmad Mochtar Bukittinggi Lakukan Rapid Test Tenaga Medis

“Warga telah tersisihkan dari masyarakat luar dan warga Jorong Paroman saat ini sangat terpuruk. Saya tidak mengerti kenapa harus ada info hoaks seperti ini,” ujar Baharuddin yang juga anggota DPRD Pasbar itu.

Ia menjelaskan, masyarakat Jorong Paroman sangat terpuruk, tersisihkan dan terpinggirkan. Sehingga untuk makan saja jadi susah, meski ada uang untuk membeli makanan, namun warga luar sebagian tidak mau melayani karena faktor kecemasan.

Sedangkan bantuan dari pemerintah daerah hingga saat ini belum tersalurkan secara maksimal. Seharus nya, baik itu Bupati, Ketua DPRD, Asisten dan OPD datang melihat penderitaan warga mereka yang ada di Jorong Paroman ini secara langsung.

Ia melanjutkan, warga disini terisolir dan tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk menumbuk padi menggunakan mesin saja, mereka tidak dilayani dan disisihkan. Jika ini terus berlangsung dibiarkan, bisa-bisa warga akan kesulitan dalam memenuhi masalah perut.

“Saya melihat dan menemukan sendiri, warga terpaksa menumbuk mie untuk dimakan. Ada lagi selain itu, warga yang sakit tidak dapat untuk berobat. Harus nya ini yang jadi perhatian pemerintah,” sebutnya.

Baca juga :  Transparansi, Data Penerima Bansos Padang Panjang Bisa Dicek Online

Ia menjelaskan, warga Jorong Paroman begitu tertekan. Pemerintah dan penegak hukum diminta segera hadir untuk meluruskan dan menindak terhadap orang-orang yang telah menebar isu hoaks itu.

“Saya selaku putra Nagari Sinuruik, anggota DPRD serta Mantan Bupati Pasaman dan Bupati Pasaman Barat, pernah merasakan bagaimana jadi pemimpin. Kita harus hadir dan ini akan jadi obat dan bisa membangun kepercayaan orang dari luar dan didalam,” jelasnya.

Ia berharap, semoga pemerintah segera mungkin menunjukkan peran nya dan bisa hadir menjadi obat, agar dapat menjadi penawar dan beban mental masyarakat dapat terobati,” harapnya.

Sementara Sekretaris Nagari Sinuruik membenarkan bahwa masyarakat Jorong Paroman mengalami tekanan psikologis. Namun ini dampak dari sosialisasi yang kurang dari pihak Puskesmas dan hal itu telah disampaikan.

Bahkan, katanya, dari informasi yang beredar,  ada warga yang sedang isolasi mandiri tetap terlihat berbelanja dan tidak ada penolakan. Jadi hal-hal seperti itu sama dengan informasi yang simpang siur.

“Kita juga tidak bisa mengatakan itu tidak benar dan simpang siur, karena masyarakat mengalami itu. Kalau kita yang ditolak, tentu kita bisa menjawab langsung, namun ini masyarakat dan mereka mengalami itu,” ungkapnya.

Baca juga :  Webinar Series : Membumikan Sosiologi dalam Pembelajaran di Sekolah

Sedangkan terhadap bantuan, 16 warga hasil tracking sedang melakukan isolasi mandiri dan hari ini akan diserahkan bantuan. Sedangkan terhadap warga lain di Jorong Paroman telah di data dan dipetakan, saat ini ada 159 rumah.

“Sekarang kita melakukan tracking terhadap satu bangunan rumah berapa isi penghuninya. Sehingga bantuan ini bisa disesuaikan dengan jumlah orangnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini Pemerintah Nagari Sinuruik telah berkomitmen dengan Bamus serta telah berkoordinasi dengan Dinsos terhadap bantuan di Jorong Paroman. (GYN)