Seorang warga negara Singapura didakwa menggunakan konsultan politiknya di Amerika untuk mengumpulkan informasi bagi Intelijen Tiongkok.

Dilansir dari CNN, Jun Wei Yeo, yang dikenal juga dengan Dickson Yeo bekerja untuk intelijen Tiongkok selama empat atau lima tahun. Ia mendirikan sebuah website konsultasi palsu. Dari situ ia berhasil mendapatkan informasi “rahasia” seperti artificial intelligence dan perang dagang yang sedang terjadi antara Tiongkok-AS untuk diteruskan ke Beijing.

Dilansir dari Straits Times, ia menerima lebih dari 400 resume, sekitar 90 persennya berasal dari personel militer dan pemerintah AS yang memiliki izin keamanan tinggi.

The Washington Post melaporkan bahwa Yeo mengaku membayar 1.000 hingga 2.000 dolar untuk setiap pegawai pemerintahan untuk menuliskan laporan mengenai anggota kabinet AS yang duduk pada 2018-2019.

Yeo juga mempekerjakan seorang sipil Amerika yang bekerja untuk Angkatan Udara AS dalam sebuah program rahasia untuk menuliskan laporan. Menurut pengakuannya, ia mendapat instruksi untuk menentukan target-target di posisi sensitif yang tidak puas dengan pekerjaan mereka atau yang sedang mengalami permasalahan keuangan.

Baca juga :  Ini 21 desa wisata di Pariaman yang berkembang pesat menggunakan dana desa

Yeo direkrut oleh intelijen Tiongkok sewaktu perjalanannya ke Beijing pada 2015, ketika ia tengah menempuh studi doktoral di National University of Singapore. Ia ditawari sejumlah uang untuk informasi dan laporan politik dan kemudian diminta untuk menandatangani kontrak dengan militer Tiongkok, People’s Military Army (PLA).

Yeo tinggal di Washington DC dari Januari sampai Juli 2019 dimana ia menghadiri beberapa acara think-tanks untuk menjalin hubungan dan merekrut lebih banyak orang untuk menulis laporan. Ia ditangkap pada Desember tahun itu ketika ia kembali ke AS untuk mendekati seorang perwira AS yang bekerja di Pentagon untuk menyediakan lebih banyak informasi penting.
Hukuman akan dijatuhkan pada Oktober dan ia dijatuhi hukuman 10 tahun penjara.

“Hari ini, pengakuan tersebut menekankan cara-cara pemerintah Tiongkok menargetkan Amerika dengan akses terhadap informasi sensitif pemerintahan, termasuk dengan menggunakan internet dan orang-orang non-Tiongkok,” kata Michael R. Sherwin, selaku jaksa District of Columbia dalam sebuah pernyataannya seperti dilansir dari CNN. “Kami aku melanjutkan mengadili mereka yang menerapkan praktek-praktek penipuan di internet dan di bidang lainnya yang mengancam keamanan negara kami.”

Baca juga :  Tinjau Hari Kedua PBM, Bupati Pasbar Ingatkan Penerapan Protokol Kesehatan

Dilansir dari the Washington Post, kepala kantor lapangan FBI di Washington Timothy R. Slater mengingatkan warga negara AS, “terutama mereka yang memegang akses ke informasi penting, agar waspada ketika didekati oleh seseorang di media sosial dengan tawaran kesempatan karir yang tidak masuk akal.” (patra)