Padang, inioke.com–Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan menganjurkan masyarakat agar tetap di rumah saja untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, memunculkan permasalahan baru yang harus diwaspadai. Aktivitas yang dibatasi, hanya di rumah saja ini bisa menimbulkan cabin fever.

Bagian Psikiatri FK Unand, dr Taufik Ashal, mengatakan, cabin fever ini merupakan masalah kesehatan mental yang ditandai dengan stres berkepanjangan dan trauma berat akibat terlalu lama di rumah. Gejala ini akan cepat dirasakan oleh seorang extrovert, orang yang suka bepergian, dan orang-orang yang tidak betah di rumah.

“Cabin fever bukanlah suatu diagnosis penyakit psikologis, gangguan ini hanya bentuk dari perasaan atau respon seseorang terhadap keadaan yang dialaminya. Meskipun cabin fever tidak diakui sebagai gangguan psikologis, namun kesedihan dan emosi yang mereka rasakan bersifat negatif sehingga berpotensi menyulitkan aktivitas penderitanya,” ungkap dr Taufik, dalam livestreaming akun IG @fkunandofficial, kemarin (9/5).

Dijelaskan dr Taufik, jika merasa sedih, tertekan, dan tidak nyaman selama PSBB, kemungkinan terkena cabin fever cukup besar. Selain itu gejala seperti kegelisahan, tidak bersemangat, rasa putus asa, kelelahan, sulit tidur, mudah marah, sulit berkonsentrasi, mudah stres, pola tidur tidak teratur, mudah mengantuk tapi susah tidur serta cenderung tidak sabaran, juga merupakan gejala apabila mengalami cabin fever. Apabila ada ditemukan gejala-gejala seperti dijelaskan tersebut, dr Taufik menyarankan segera konsultasi dengan psikiater.

Baca juga :  Menyigi Memori Kebencaan dalam Manuskrip Minangkabau

Mengatasi stres akibat di rumah saja bergantung kepada situasi pribadi yang dialami. Sebenarnya dukungan dan pengaruh dari keluarga dapat menemukan cara sendiri untuk mengatasi kondisi ini. Ada beberapa saran dapat juga untuk dicoba. Pertama, selama berada dirumah lakukan hal-hal yang positif penghilang bosan seperti membuat kerajinan tangan, bersih-bersih rumah. Kedua, tetap berkomunikasi dengan orang-orang terdekat melalui media sosial.

“Cabin fever zaman sekarang sangat berbeda dengan cabin fever pada zaman dahulu. Pada masa pandemi sekarang, umumnya setiap orang yang berada di rumah dapat melakukan komunikasi dengan menggunakan gadget untuk menghilangkan kebosanan. Berbeda waktu dulu, ketika orang-orang di Eropa terjebak pada masa musim dingin yang tidak dapat keluar rumah, sehingga memungkinkan sesorang ketika itu mengalami cabin fever cukup tinggi,” pungkasnya. (boy)