Padang, inioke.com–Webinar Pendidikan Sosiologi series yang diinisiasi oleh Jurusan Sosiologi FIS UNP bekerjasama dengan Jurusan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi Sumatera Barat kembali dilanjutkan pada Sabtu (25/7). Seri kedua dengan tema optimalisasi pembelajaran sosiologi di masa new normal.

Terlaksananya webinar pendidikan sosiologi series, dilatarbelakangi untuk menyikapi perseoalan-persoalan Pendidikan di Indonesia.

Khairul Fahmi Dosen Jurusan Sosiologi FIS UNP yang bertindak sebagai host pada webinar ini mengatakan bahwa apabila menilik satu persatu tentu sungguh sangat banyak persoalan-persoalan pendidikan di Indonesia.

“Namun apabila kita hadapkan kepada pendidikan masa pandemik covid-19 maka persoalannya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat atau orang tua murid, guru, serta institusi pendidikan. Persoalan yang dirasakan oleh guru dan siswa terletak pada pelaksanaan pembelajaran seperti kesiapan sarana dan prasarana, design pendidikan dan penilaian evaluasi belajar siswa serta sumber daya manusia yang dimiliki guru, siswa dan orang tua murid dalam menerapkan teknologi,” jelas Khairul Fahmi.

Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia, Elly Malihah, mengatakan proses belajar mengajar tatap muka telah digantikan dengan proses belajar mengajar melalui daring ketika covid-19 menyerang Indonesia.

“Ada beberapa hal yang dapat kita ambil hikmah dari pandemi covid-19. Pertama, mempercepat berada dalam era Revolusi Industri 4.0, sebelumnya kita telah mengenal yang namanya era revolusi industri 4.0 secara teori, namun hari ini akibat dari dampak covid-19 maka mau tidak mau kita sedang berada pada era ini dengan teknologi menjadi bagian penting dalam hal ini,” papar Elly.

Baca juga :  10 Orang Tenaga Kesehatan RSUD Padang Panjang Sembuh dari Covid-19

“Kedua, mempercepat keterampilan abad 21 seperti keterampilan teknologi, komunikasi dan berpikir kritis. Ketiga, memperpendek jarak. Sekarang saya tidak harus datang langsung ke Universitas Negeri Padang untuk menyampaikan materi seminar karena melalui teknologi saya dapat menyampaikan materi dari rumah. Keempat, membangun kampung global. Sekarang kita berada frekuensi yang sama dalam dunia maya. Seolah-olah kita tidak memiliki batas wilayah, batas negara , batas provinsi kita berada dalam komunikasi yang sama. Kelima, Membangun Solidaritas. Pandemik Covid-19 memaksa kita untuk membangun kembali nilai-nilai persaudaraan, sumbangan yang muncul atas dasar kesadaran dapat terkumpul dengan baik. Keenam, membangun adaptabilitas. Penyesuaian prilaku hidup sehat lalu penyesuaian Proses Belajar Mengajar dari offline menjadi online,” imbuhnya.

Kerjasama dan sinergi antar kementerian menghasilkan prinsip kebijakan pendidikan di masa Pandemik Covid-19 yang diutamakan adalah kesehatan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, masyarakat merupakan prioritas utama dalam menetapkan kebijakan pembelajaran.
Upaya untuk mengoptimalkan pembelajaran pada masa new normal dengan menggunakan pendekatan Blended Learning yaitu pendekatan dalam pendidikan dimana proses pembelajaran konvensional di kelas diperkaya dengan fasilitas yang disediakan oleh media informasi dan atau media sosial berbasis teknologi digital.

Elly Malihah menerangkan bahwa ada plus-minus dari blending learning.

”Plus pertama dapat melatih kemandirian siswa, hal ini seirama dengan merdeka belajar yang telah dicanangkan oleh Kemendikbud. Kedua, melatih keterampilan kolaborasi dan komunikasi antar siswa. Ketiga, perluasan materi yang tidak hanya sebatas text book. Keempat, digital literasi. Kelima, efektifitas dan efisiensi.”

Baca juga :  Bertambah Lagi 3 Orang Positif COVID-19 di Pesisir Selatan

“Sedangkan minus, pertama jika tidak sesuai rencana tujuan pembelajaran tidak tercapai. Kedua, memerlukan biaya yang cukup tinggi karena harus menyediakan akses internet. Ketiga, kesulitan dalam melihat gestur atau performance baik guru maupun peserta didik. Kelima, ketergantungan teknologi,” jelas Elly Malihah.

Ketika pembelajaran online telah diterapkan, maka untuk pendidik sangat perlu meningkatkan berbagai keterampilan agar dapat menunjang pembelajaran secara online seperti peningkatan keterampilan digital, peningkatan pengetahuan, peningkatan model, media, metode dan alat evaluasi pembelajaran, dan perencanaan terintegritas,” tutupnya.

Narasumber lainnya, Dosen Universitas Negeri Yogyakarta, Grendi Hendrastomo mengatakan bahwa ada tiga macam model dan ragam model pembelajaran dapat digunakan pada masa new normal. Pertama, model pembelajaran tatap muka. Kedua, model pembelajaran blended learning. Ketiga, Model Pembelajaran Flipped Learning.

Model pembelajaran tatap muka telah dilaksanakan di negara Srilanka, Thailand dan Vietnam dengan menjalankan prosedur sangat ketat. Siapkah kita untuk melaksanakan model pembelajaran tatap muka dengan setiap pagi menyiapkan masker, handsanitizer dan hal-hal yang diperlukan sesuai dengan protokol kesehatan covid-19. Kedua, menggunakan model pembelajaran blended learning dan flipped learning, sebetulnya jika menggunakan model pembelajaran dengan memakai jaringan dan teknologi tidak semua daerah memiliki sarana dan prasarana yang sama dalam menunjang model pembelajaran tersebut.

Model Pembelajaran Jarak Jauh dapat menjadi solusi bagi daerah-daerah atas ketidakadaan teknologi dalam menunjang pembelajaran daring. Pada prinsipnya model pembelajaran jarak jauh tidak harus berada pada lokasi yang sama antara pendidik dengan peserta didik, sebenarnya pembelajaran jarak jauh dapat dilaksanakan dengan cara offline.
Contoh pembelajaran jarak jauh secara offline dapat membuat dan mencetak sebuah modul yang berisi bagaimana cara siswa tersebut harus belajar. Sehingga tidak terlalu bergantung dengan teknologi bagi daerah-daerah yang memang tidak mendukung sarana dan prasaranya.
Cara lain yang dapat dilaksankan dalam mensiasati pembelajaran di masa new normal dengan cara mendatangi rumah-rumah siswa, hal ini tentunya harus melalui kebijakan dari Pemerintah terkait kesanggupan dalam memberikan tunjangan tambahan.

Baca juga :  Empat Pasang Bakal Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Terdaftar di KPU Sumbar

Selanjutnya, sebenarnya banyak pilihan media pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru dalam melakukan pembelajaran seperti, aplikasi zoom meeting, facebook. Instagram, Twitter, Google meet, Whatsapp dan lain sebagainya. Namun yang harus diperhatikan dalam menentukan media yang akan dipakai harus lah memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

Pertama, mampu menjadi kepanjangan tangan pendidik untuk menyentuh peserta didik. Kedua, perlu mempertimbangkan tujuan penggunaan media (penyampaian apersepsi/materi/evaluasi). Ketiga, mampu meningkatkan student engagement (keterlibatan peserta didik). Keempat, menumbuhkan semangat dan menantang bagi peserta didik. Kelima, mampu mendorong pembelajaran daring dilakukan dengan menyenangkan.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial Univeritas Negeri Padang, Siti Fatimah, sangat mengapresiasi kegiatan yang telah diinisiasi oleh Jurusan Sosiologi FIS UNP bekerjasama dengan Jurusan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi Sumatera Barat. Harapan untuk kedepannya agar apa yang telah kita laksanakan hari ini tidak hanya berhenti sampai disini namun kedepannya dapat direalisasikan dalam bentuk workshop sehingga betul-betul ada produk yang dihasilkan dan dapat dilihat secara terukur.
(BOY)