Oleh : Ampera Salim Patimarajo

 

Wisata religi adalah wisata yang bertujuan untuk memperkaya wawasan keagamaan dan memperdalam rasa spiritual. Ini kesimpulan yang bisa disepakatai terkait pengertian wisata religi.

Adapun asal usul dari wisata religi, entah siapa yang membuat dan mempopulerkan. Namun yang jelas, belakangan ini wisata religi menjadi tren baru yang digandrungi banyak orang.

Secara tiba-tiba istilah “wisata religi” menjadi semacam kesepakatan yang tak terkatakan. Namun diakui berbagai kalangan, mulai dari para penyedia armada wisata, pengelola kawasan ziarah wali, tokoh-tokoh masyarakat, dan masyarakat umum, baik pedesaan maupun perkotaan, mengakui bahwa wisata religi itu punya daya tarik tersendiri.

Potensi Wisata Religi Darul Ulum

Ponpes Darul Ulum Padang Magek memiliki sejumlah situs ziarah, yang mampu memperkuat wisata religi di Kabupaten Tanah Datar, Sumbar. Hal ini bisa dilihat melalui sejumlah agenda peribadatan rutin tahunan maupun yang bersifat khusus atau memiliki keunikan dan nilai religi tersendiri, yang mungkin tidak dijumpai di tempat lain.

Hal ini dapat dibuktikan, di sekitar pondok ini ada makam para wali atau orang keramat. Seperti makam Ungku Alirumin di tampat koto, makam Ungku Ibrahim di tampat ateh duyan, makam Ungku Angin di tampat surau baru. Begitu juga makam guru guru tarekat syatariyah Ungku Nuwar di tampat ateh duyan yang belakangan ramai dikunjungi peziarah. Semua tempat ini bisa ditempuh dalam waktu 15 menit jalan kaki.

Sementara itu, dalam pengembangan konsep wisata religi Pondok Pesantren Darul Ulum, melibatkan para kiai dan santri yang siap membantu masyarakat mendalami ilmu Al-Qur’an, hadits, tafsir, dan lainnya.

Kini Pesantren Darul Ulum telah mempersiapkan kelas-kelas khusus untuk belajar agama. Dalam hal ini pelajaran dan kedisiplinan pesantren pun turut diperketat. Semua itu dipersiapkan untuk melayani wisatawan religi yang berkunjung.

Wisata religi di Ponpes Darul Ulum ini juga memiliki beberapa alternatif waktu kunjungan, antara lain malam Rabu berbentuk zikir bersama, malam Jum’at wirid yasinan dan malam Ahad muhadarah santri.

Bagi masyarakat yang ingin belajar lebih dalam tentang ilmu keagamaan bisa mondok (bermukim) di pesantren. Termasuk yang mendalami ilmu tasauf (tarekat syatariah) ditentukan saatnya dengan kesepakatan.

Berkunjunglah ke Darul Ulum

Sebagai lokasi wisata religi di Tanah Datar, untuk mengunjungi Ponpes Darul Ulum, Padang Magek, tidaklah sulit. Jalanan pun bagus dan mulus. Jika kita dari Padang Panjang ambil jalan arah ke Batusangkar. Nanti sampai di Simpang Manunggal Lima Kaum, ambil jalur kanan.

Baca juga :  Komisi I DPRD Sumbar Dukung Pariangan sebagai Nagari Adat

Setelah itu ada simpang empat, ambil lagi ke kanan. Terus saja. Nanti tiba di Pasar Rambatan ada simpang tiga. Ambil lagi ke kanan menuju Guguk Gadang, Padang Magek. Setelah pendakian, jumpa simpang empat, ambil kanan lagi. Di sinilah Darul Ulum berada.

Sepanjang jalan tadi pengunjung akan menikmati pemandangan alam yang indah. Mulai dari penurunan Batipuh ke Kubu Kerambil. Pendakian ke Nagari Sabu, Sikaladi sampai Pariangan desa terindah di dunia. Menurun jalan ke Simabur, Sawah Tangah hingga Cubadak, Supanjang.

Sepanjang jalan pemandangan menyejukan mata. Pengunjung dimanjakan lagi dengan pemandangan sawah yang luas bertumpak tumpak ketika melintas Lima Kaum ke Rambatan terus ke Padang Magek.

Jika pengunjung datang dari arah Solok atau pun dari Padang Panjang memilih jalan Ombilin, maka terus saja jalan arah ke Batusangkar. Nanti di puncak pendakian ada simpang empat, yang disebut Simpang Gobah, Padang Magek, ambil jalan ke kiri, terus saja sampai ke Guguk Gadang Padang Magek.

Sampai di Darul Ulum, wisatawan bisa beruduk dan shalat. Bisa juga ikut mendengarkan, melihat kegiatan anak santri yang sedang mengaji. Semua ini dilalui sambil menjalin silaturrahmi, dengan niat ibadah. Jadilah liburan sambil beribadah. Dunia dapat, akhirat diraih.

Ditopang Kawasan Agro

Pada lokasi Ponpes Darul Ulum, Padang Magek, ada pemandangan alam yang menarik. Petak petak sawah berjenjang hingga ke pinggang Gunung Marapi.

Terlihat juga tali temali bukit yang berjajar, yang disebut bukit panjang. Udara di sini terasa sejuk dari angin lepas di pelataran sawah yang luas.

Selain itu, pengunjung juga bisa mendengar gemercik air dari tali bandar tepi sawah. Seirama dengan alunan tafsir kitab kuning yang dibaca santri setiap pagi dan petang.

Bila berkunjung ke sini inshaa Allah hati akan tentram. Sembari berziarah ke makam tampat koto, dan tampat ateh duyan.

Sarana pendukung lainnya

Setelah sampai di Darul Ulum, pengunjung dapat melihat kesederhanaan di situ. Ada Surau Lawik. Sebenarnya bangunan ini bukan surau. Melainkan lokal belajar santri yang terdiri dua lokal. Tersebab lokal ini juga digunakan untuk tempat tidur santri (asrama), maka para santri menyebutnya surau.

Letaknya arah ke barat di pinggiran sawah, para santri menyebutnya surau lawik. Surau arah ke laut. Meskipun laut sangat jauh dari sini.

Di halaman surau lawik, ada lapangan bola kaki mini. Santri tiap sore main bola di sini dengan riang gembira.

Baca juga :  Pak Pos Mulai Mengantarkan Bantuan JPS Pemprov Sumbar ke Rumah Masyarakat

Surau Belok. Menuju ke surau yang satu ini, berbelok ke kanan sebelum sampai di halaman Gedung Utama Ponpes Darul Ulum. Karena itu sejak dahulu surau ini disebut surau belok.

Terbuat dari tiang kayu, lantai papan, dinding papan. Surau ini didirikan oleh kaum keluarga H. Marjohan Sutan Mantari, kira kira tahun 1960-an. Hingga kini masih berdiri kokoh.

Santri laki laki Darul Ulum menghuni surau ini sekitar dua puluh orang. Mereka bersempit sempit. Malah ada satu ruangan, yang atapnya dilapisi terpal, agar hujan tidak masuk. Namun para santri tetap semangat.

Mereka anggap, itulah salah satu perjuangan menuntut ilmu. Rela bersusah susah. Demi berharap ilmu yang berkah.

Surau Peto. Dalam komplek Pesantren Darul Ulum, Padang Magek, ada satu surau bernama surau murai. Dahulunya surau ini dibuat oleh Almarhum Gaek Malin Saidi. Ketika membuat surau ini Malin Saidi masih muda di tahun 1950-an.

Masa itu surau murai terbuat dari tiang kayu, lantai papan, dinding anyaman bambu berupa sasak dan tadir. Setelah Malin Saidi meninggal, surau ini diwarisi adiknya Peto Kamat.

Tahun 2018, surau murai dibuat baru oleh kemanakan Malin Saidi. Ukurannya sama: besar, tingginya persis sama. Hanya bentuk atapnya beberbeda. Dahulu itu gonjong dua. Kini pakai kubah petak. Kini santri menyebutnya surau peto.

Surau peto ini dipersembahkan oleh kemanakan Malin Saidi untuk asrama Santri Pria Ponpes Darul Ulum.

Surau Baru. Surau baru ada dua buah. Kedua surau ini namanya surau baru sejak dibuat oleh pemiliknya. Dibuat sekitar tahun 1940. Surau baru ateh (kini catnya merah jambu) didirikan kaum H. Jakfa dan H. Mustafa. Keduanya kakak adik. Surau baru bawah (kini cat hijau), didirikan kaum Datuk Cumano.

Surau baru bawah tempat pertama kali, Tk. Salim Malin Kuning mulai mengajar kitab kuning dengan empat orang muridnya di tahun 1942.

Kedua surau ini masih berdiri kokoh. Tiangnya masih tangguh. Kayunya kayu pilihan. Hingga kini menjadi asrama santri laki laki Ponpes Darul Ulum Padang Magek.

Bisa tidur dan mengaji di surau ini, merupakan kebahagiaan tersendiri bagi santri. Ungku Jakfar memilih tempat mengajar di surau baru bawah. Sebab, di situ dulu Tk. Salim Malin Kuning mulai mengajar 1942 dan sampai akhir hayatnya 1987.

Tampat Koto. Tampat koto merupakan tempat berkuburnya, Buya Alirumin. Konon beliau berasal dari daerah Siak Sri Indrapura, Riau. Bersama pengikutnya, beliau datang ke Nagari Padang Magek, mengembangkan agama Islam sekitar tahun 1600-an.

Baca juga :  Fadly Amran : Belum Terdaftar sebagai Penerima Bansos Silakan ke Dinas Sosial

Beliau mengajar, mendidik anak anak Nagari Padang Magek supaya pandai ilmu agama. Terutama membaca kitab suci Al-Qur’an.

Tampat beliau ini, silih berganti dikunjungi anak nagari, untuk melepas hajat, berdo’a dan memperingati hari besar Islam sejak dahulu.

Ini semua dilakukan mengingat jasa beliau yang telah menghabiskan hari hari kehidupannya mengajarkan ilmu Agama Islam kepada anak nagari.

Tersebut masyarakat Padang Magek, teguh memegang Islam, semua ini berhulu dari jasa beliau mengajari anak nagari seperti itu.

Tampat ateh duyan. Pada lokasi ini Ungku Ibrahin yang dulu tahun 1800-an, pernah tinggal berdiam di suraunya yang sudah tidak ada lagi. Makam Ungku Nuwar juga ada si tampat ini. Ungku Nuwar mengaji di surau baru bersama Tk. Salim Malin Kuning tahun 1980 s/d 1987. Beliau kelahiran 1967 dan meninggal 2014. Makamnya ramai dikunjungi murid muridnya hingga kini untuk berziarah.

Lapau makanan dan minuman. Sekitar Pesantren Darul Ulum ada beberapa warung makanan. Seperti warung si Las, warung Nua Manjang, warung Suweh, warung si Cen dan warung si Yul. Semua warung menyediakan makanan nasi, ketupat, mie instan dan kue kue. Begitu juga minuman teh manis, kopi dan lain lain.

Kesimpulan

Kawasan wisata religi Pondok Pesantren Darul Ulum, ini masih asli. Belum ada sentuhan modernisasi. Tidak ada restoran ataupun tempat foto selfi. Di sini juga tidak ada buah segar yang bisa dipetik. Tapi bila berkunjung ke Ponpes Darul Ulum Padang Magek, pengunjung akan merasakan sesuatu yang beda.

Pengunjung bisa lihat sekitar 300 orang berkelompok kelompok dari anak anak santri yang duduk melingkar, mereka membaca kitab bersama guru mereka di suraunya masing masing.

Pengunjung bisa menyaksikan bahkan mengukuti, mendengar dari dekat santri belajar. Tentu pula akan merasa sejuk di hati.

Pengunjung tidak sedang mendengar tausiah ustadz di mimbar. Tidak sedang mendengar ahli pidato di panggung. Tapi terbawa dalam suasana menuntut ilmu.

Pengunjung bakal merasakan sejuknya batin ketika pahala mengalir ke relung kehidupan. Inilah salah satu penawar gelisah jiwa dan akan menguatkan raga.

Berkunjunglah ke Ponpes Darul Ulum di Jorong Guguak Gadang, Padang Magek, Rambatan, Tanahdatar, Sumbar. Nikmatilah wisata religius ini bersama keluarga. Bila waktu shalat tiba kita semua berjamaah menunaikannya.

Selamat menikmati.